Deadline – Gunung Semeru meletus pada Minggu, 5 April 2026, dengan kolom abu mencapai 1.000 meter dari puncak. Aktivitas vulkanik ini memicu peringatan serius dari Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi kepada warga di sekitar kawasan gunung.
Gunung Semeru meletus pada pukul 02.02 WIB dan hingga pagi hari erupsi masih berlangsung. Tinggi kolom abu teramati mencapai 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut.
Petugas pengawas gunung api, Yadi Yuliandi, menjelaskan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat. Aktivitas erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 209 detik.
Ia menegaskan larangan aktivitas di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Gunung Semeru meletus juga meningkatkan risiko aliran lahar. Warga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai, terutama di sepanjang Besuk Kobokan. Aliran lahar dan perluasan awan panas berpotensi menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat dilarang memasuki radius 5 kilometer dari kawah. Area ini rawan lontaran batu pijar yang dapat membahayakan keselamatan.
Ancaman lain yang harus diwaspadai meliputi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak. Wilayah yang masuk zona risiko antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungainya.
Dalam periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat 17 kali gempa letusan dengan durasi 72 hingga 191 detik. Aktivitas juga disertai satu kali gempa awan panas guguran, gempa guguran, serta dua kali gempa hembusan.
Sehari sebelumnya, Sabtu 4 April 2026, aktivitas sudah tinggi. Tercatat 75 kali gempa letusan dengan durasi 56 hingga 172 detik. Selain itu terjadi dua kali gempa guguran, empat kali gempa hembusan, lima kali gempa harmonik, dan satu kali gempa tektonik jauh dengan durasi 48 detik.
Peningkatan aktivitas ini menunjukkan kondisi Gunung Semeru masih belum stabil dan berpotensi terus mengalami erupsi lanjutan.



