voice of Jakarta | Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Navigasi Penerbangan menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Inspektur Navigasi Penerbangan Tahun 2026 di Jakarta pada 19–21 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat koordinasi, sinergi, dan peningkatan kompetensi inspektur navigasi penerbangan dalam mendukung layanan penerbangan nasional yang aman, tertib, efisien, dan berstandar internasional.
Mengusung tema “Empowering Inspectors, Advancing Air Navigation Excellence”, Rakornis tahun ini menitikberatkan pada penguatan sistem pengawasan modern yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika industri penerbangan global.
Rakornis dibuka Direktur Keamanan Penerbangan, Sigit Hani Hadiyanto, dan dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Perhubungan, termasuk Direktur Navigasi Penerbangan, Direktur Angkutan Udara, Direktur Bandar Udara, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga X, serta para Inspektur Navigasi Penerbangan dari seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dalam arahannya menegaskan bahwa keselamatan penerbangan merupakan prioritas strategis pemerintah sekaligus fondasi penting pembangunan nasional.
Menurutnya, peran inspektur navigasi penerbangan kini semakin vital di tengah meningkatnya kompleksitas layanan penerbangan dan percepatan transformasi teknologi.
“Di tengah dinamika perkembangan teknologi dan kompleksitas pelayanan navigasi penerbangan yang semakin meningkat, peran inspektur navigasi penerbangan menjadi semakin strategis dan krusial dalam memastikan keselamatan, keteraturan, dan efisiensi pelayanan penerbangan nasional,” ujar Lukman.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi pengawasan menuju sistem yang lebih adaptif, berbasis risiko, dan memanfaatkan teknologi serta data secara optimal.
Melalui Rakornis tersebut, pemerintah berharap tercipta harmonisasi pengawasan guna memastikan layanan navigasi penerbangan nasional tetap aman, andal, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Navigasi Penerbangan, Syamsu Rizal, mengatakan Rakornis 2026 dirancang sebagai momentum penguatan sistem pengawasan nasional melalui peningkatan kompetensi inspektur, harmonisasi regulasi, dan penerapan Risk-Based Oversight.
“Pengawasan tidak bisa lagi hanya berjalan di atas kertas dan checklist konvensional. Kita harus mampu membaca data, menganalisis risiko, dan mengambil keputusan berbasis bukti,” ujar Syamsu.
Berbagai isu strategis turut dibahas dalam Rakornis, termasuk kesiapan menghadapi audit ICAO USOAP 2027, implementasi standar International Civil Aviation Organization (ICAO), pengawasan teknologi navigasi baru seperti Advanced Air Mobility (AAM) dan drone, hingga penerapan Fatigue Management System.
Selain itu, forum juga membahas optimalisasi pengawasan berbasis teknologi melalui pemanfaatan database digital GARDANAV dan penerapan Risk-Based Oversight sesuai ICAO Annex 19.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas teknis, peserta Rakornis juga melakukan kunjungan ke fasilitas New Jakarta Air Traffic Services Center (New JATSC) guna memahami sistem navigasi penerbangan modern dan metode pengawasan terhadap teknologi terkini.
Kegiatan tersebut turut diisi diskusi teknis, evaluasi pengawasan, pembaruan regulasi, serta penyusunan strategi peningkatan kualitas layanan navigasi penerbangan nasional.
Melalui Rakornis ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan komitmennya memperkuat pengawasan dan pelayanan navigasi penerbangan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan, serta penerapan standar keselamatan penerbangan global secara konsisten.



