Deadline – Pungli Pelabuhan Ciwandan menjadi sorotan setelah seorang pemudik lansia bernama Asrul (72) mengaku diminta membayar tiket penyeberangan lebih mahal dari harga resmi. Peristiwa ini terjadi saat Asrul hendak menyeberang menuju Sumatera dalam perjalanan mudik seorang diri dari Bekasi ke Padang, Sumatera Barat.
Kasus ini terjadi di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, pada Minggu malam, 15 Maret. Asrul yang melakukan perjalanan jauh dengan sepeda motor memprotes dugaan pungutan liar oleh oknum petugas pemeriksaan tiket setelah mengetahui adanya selisih harga pada tiket yang dibelinya.
Perjalanan Mudik Sendirian dari Bekasi ke Padang
Asrul, seorang kakek berusia 72 tahun, memulai perjalanan mudiknya dari Bekasi sekitar pukul 15.00 WIB. Ia berencana pulang kampung ke Padang, Sumatera Barat, dengan menempuh perjalanan panjang menggunakan sepeda motor.
Karena tidak memahami aturan terbaru penyeberangan, Asrul sempat menuju Pelabuhan Merak terlebih dahulu. Ia tidak mengetahui bahwa pemudik yang membawa sepeda motor diarahkan untuk menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan.
Setelah berpindah lokasi dan menempuh perjalanan cukup jauh, Asrul akhirnya tiba di Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 23.00 WIB.
Mengaku Dibantu Petugas, Namun Diminta Bayar Rp80 Ribu
Setibanya di pelabuhan, Asrul mengaku mendapat bantuan dari seorang petugas pemeriksaan tiket untuk membeli tiket kapal feri menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
Karena tidak memiliki telepon genggam dan tidak memahami cara membeli tiket secara daring, ia menerima bantuan tersebut. Namun ia diminta membayar sebesar Rp80.000 untuk tiket penyeberangan.
Asrul mengaku kebingungan karena sejak datang ke pelabuhan ia harus berkeliling mencari lokasi pembelian tiket.

“Saya dari ujung ke ujung muter-muter. Di pintu ditanya ‘Pak HP bapak mana?’ Saya bilang tidak punya. Dia bantu beli tiket, katanya Rp80 ribu,” kata Asrul kepada wartawan di lokasi.
Kaget Harga Tiket Asli Hanya Rp45 Ribu
Setelah menerima tiket, Asrul terkejut saat melihat harga yang tercetak di tiket hanya Rp45.000.
Perbedaan harga tersebut membuatnya merasa dirugikan. Ia kemudian langsung memprotes petugas yang ada di area pelabuhan.
“Pas saya lihat kok Rp45 ribu, padahal saya bayar Rp80 ribu. Yang bantu itu petugas,” ujarnya.
Protes tersebut akhirnya ditanggapi oleh petugas dari PT ASDP Indonesia Ferry yang bertugas di pelabuhan.
ASDP Kembalikan Selisih Uang Pemudik
Setelah dilakukan klarifikasi, petugas menemukan adanya selisih antara uang yang dibayarkan dengan harga tiket sebenarnya.
Pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) kemudian mengembalikan seluruh selisih uang kepada Asrul. Tiket yang dimilikinya tetap dinyatakan berlaku sehingga ia tetap bisa melanjutkan perjalanan menyeberang.
Meski mengalami kejadian tersebut, Asrul tetap melanjutkan perjalanan mudiknya menuju Padang menggunakan sepeda motor.
“Saya dari Bekasi mau ke Padang, sendiri naik motor. Nggak tahu sampai kapan, kalau capek ya istirahat,” kata Asrul.
ASDP Minta Maaf dan Nonaktifkan Oknum Petugas

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, Umar Imran Batubara, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang menimpa pemudik lansia tersebut.
Menurut Umar, Asrul datang ke Pelabuhan Ciwandan tanpa tiket yang seharusnya dibeli melalui kanal resmi. Karena tidak memahami sistem pembelian tiket, ia meminta bantuan kepada petugas layanan check-in.
Dalam proses itu, petugas membantu pembelian tiket melalui agen dengan total pembayaran Rp80.000.
Namun setelah kendaraan berada di area parkir siap muat, Asrul mempertanyakan nominal pembayaran karena tiket menunjukkan harga Rp45.000.
Setelah dilakukan pemeriksaan internal, ASDP menemukan adanya selisih pembayaran.
Sebagai tindak lanjut, oknum petugas yang terlibat langsung dinonaktifkan dari tugas pelayanan dan akan dimintai keterangan lebih lanjut oleh KSKP Pelabuhan Ciwandan.
ASDP Perketat Pengawasan Layanan Pelabuhan
Pihak ASDP menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap layanan di pelabuhan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Masyarakat juga diimbau membeli tiket penyeberangan secara mandiri melalui aplikasi resmi Ferizy atau kanal resmi sebelum tiba di pelabuhan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat proses perjalanan penyeberangan lebih tertib, transparan, dan menghindari potensi pungutan liar.
Perjuangan Mudik Lansia Jadi Sorotan
Kisah perjalanan Asrul yang menempuh perjalanan jauh seorang diri dengan sepeda motor menjadi perhatian banyak orang.
Di usia 72 tahun, ia tetap bertekad pulang ke kampung halaman di Padang meski harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi berbagai kendala di perjalanan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pelayanan yang jujur dan transparan bagi masyarakat, terutama bagi pemudik yang membutuhkan bantuan di pelabuhan.



