Voice of Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan kesiapannya menjadi daerah penyangga penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 yang akan dipusatkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Dukungan tersebut tidak hanya berupa penyediaan arena pertandingan, tetapi juga mencakup penguatan infrastruktur olahraga, sistem transportasi publik terintegrasi, hingga alokasi anggaran sebesar Rp166 miliar untuk penyempurnaan berbagai venue agar memenuhi standar nasional.
Penunjukan Jakarta sebagai kota penyangga dinilai menjadi strategi pemerintah untuk memastikan penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di Indonesia berjalan efektif, sekaligus memanfaatkan pengalaman ibu kota dalam menggelar ajang olahraga bertaraf internasional.
Jakarta Dinilai Memiliki Seluruh Prasyarat Penyelenggaraan
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta, Andri Yansyah, mengatakan penetapan Jakarta sebagai daerah penyangga melalui Keputusan Menteri Nomor 129 Tahun 2024 merupakan langkah strategis di tengah tantangan pembiayaan penyelenggaraan PON.
“Dengan pengalaman sebagai tuan rumah berbagai ajang internasional, Jakarta tentunya dinilai memiliki seluruh prasyarat untuk mendukung suksesnya pesta olahraga terbesar di Tanah Air,” ujar Andri dalam diskusi bertajuk Optimalisasi Jakarta sebagai Kota Penyangga PON XXII NTB-NTT yang diselenggarakan SIWO PWI Jaya bersama KONI DKI Jakarta di Gedung KONI DKI Jakarta, Kamis (30/7).
Menurutnya, keberhasilan Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games 2018 menjadi bukti kesiapan ibu kota dalam menyelenggarakan kompetisi olahraga berskala besar dengan dukungan fasilitas dan manajemen yang telah teruji.
Seleksi Atlet Berbasis Prestasi
Selain kesiapan infrastruktur, Andri menegaskan bahwa pembinaan atlet tetap menjadi prioritas. Ia menilai PON merupakan puncak karier atlet daerah sehingga setiap atlet harus memperoleh kesempatan yang sama berdasarkan kemampuan dan prestasi.
“PON adalah puncak perjalanan seorang atlet. Mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, dan masa muda untuk berlatih. Karena itu, siapa pun yang memiliki kualitas terbaik harus mendapat kesempatan yang sama untuk bertanding dan mengharumkan nama DKI Jakarta,” katanya.
Pendekatan tersebut, menurut Andri, menjadi bagian dari komitmen Jakarta dalam menjaga profesionalisme pembinaan olahraga sekaligus mempertahankan tradisi prestasi ibu kota.
Didukung Lebih dari 220 Fasilitas Olahraga
Jakarta memiliki modal besar berupa jaringan fasilitas olahraga yang lengkap. Selain sekitar 36 venue milik pemerintah pusat, ibu kota juga memiliki lebih dari 220 fasilitas olahraga yang dikelola pemerintah daerah maupun pihak swasta.
Keunggulan tersebut diperkuat dengan sistem transportasi publik yang saling terhubung melalui MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan TransJakarta, sehingga mobilitas atlet, ofisial, media, serta penonton diproyeksikan berlangsung lebih efisien.
Pengalaman penyelenggaraan Asian Games 2018 disebut menjadi referensi penting dalam memastikan kelancaran distribusi peserta maupun penonton menuju lokasi pertandingan.
PON Diproyeksikan Menggerakkan Ekonomi Jakarta
Pemprov DKI Jakarta juga memperkirakan penyelenggaraan PON akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Andri mencontohkan Jakarta International Marathon (JAKIM) yang berlangsung selama dua hari mampu menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp694,3 miliar.
“Jika kegiatan dua hari saja mampu menghasilkan dampak ekonomi sebesar itu, maka PON yang berlangsung sekitar dua pekan tentu akan memberikan multiplier effect yang jauh lebih besar bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM,” ujarnya.
Peningkatan aktivitas ekonomi tersebut diperkirakan akan dirasakan oleh berbagai sektor jasa dan usaha kecil yang menjadi bagian dari rantai penyelenggaraan olahraga nasional.
KONI Fokus Pembinaan Atlet Menuju PON 2028
Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Hidayat Humaid, menegaskan kesiapan Jakarta tidak hanya diukur dari aspek penyelenggaraan, tetapi juga kemampuan mempertahankan prestasi olahraga ibu kota.
Menurutnya, KONI DKI telah memulai program pemusatan latihan dengan memprioritaskan atlet peraih medali emas dan perak pada PON sebelumnya sebagai fondasi pembinaan menuju PON XXII.
“Bagi kami, PON 2028 harus menghadirkan empat keberhasilan sekaligus, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses administrasi, dan sukses menggerakkan ekonomi masyarakat,” tegas Hidayat.
Ia menambahkan bahwa pembinaan atlet akan terus berjalan seiring optimalisasi dukungan pemerintah terhadap sarana dan prasarana olahraga.
Anggar Optimistis Tampil Maksimal di Jakarta
Sementara itu, Ketua Umum Pengprov IKASI DKI Jakarta, Ghozi Zulazmi, menyambut positif penetapan cabang olahraga anggar sebagai salah satu nomor yang akan dipertandingkan di Jakarta.
Menurutnya, status sebagai tuan rumah menjadi peluang besar bagi atlet anggar DKI Jakarta untuk kembali menunjukkan dominasinya di tingkat nasional.
IKASI DKI, kata Ghozi, telah menjalankan pembinaan berjenjang, program training camp, hingga uji tanding internasional guna mempersiapkan atlet menghadapi PON XXII.
Sebanyak 17 Cabang Olahraga Digelar di Jakarta
Sebanyak 17 cabang olahraga dijadwalkan berlangsung di Jakarta, antara lain akuatik, anggar, senam, menembak, balap sepeda, berkuda, bisbol, tenis, squash, gulat, ice skating, skateboard atau sepatu roda, boling, dayung, korfball, teqball, dan rugbi.
Seluruh pertandingan akan memanfaatkan fasilitas olahraga yang telah tersedia, termasuk kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta International Equestrian Park, Velodrome Rawamangun, GOR Bulungan, GOR Ciracas, Stadion Atletik Rawamangun, hingga Danau Cincin.
Dengan kesiapan infrastruktur, transportasi, serta pembinaan atlet yang terus diperkuat, Jakarta menargetkan perannya sebagai kota penyangga mampu memberikan kontribusi penting terhadap kesuksesan penyelenggaraan PON XXII Tahun 2028 sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.



