voice of Jakarta |Â Antusiasme pengunjung dalam talkshow “Dari Biji ke Cangkir Kopi: Menjelajahi Coffee Universe Kini dan Nanti” di FEST Urban Farming 2026 tidak hanya mendapat perhatian dari pelaku usaha kopi, tetapi juga para narasumber yang hadir. Salah satunya adalah Margaret Marsia, pebisnis kafe sekaligus trainer barista, yang mengaku terkesan melihat tingginya minat masyarakat terhadap industri kopi.
Menurut Marsia, peserta yang mengikuti diskusi berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga generasi muda. Baginya, keberagaman audiens menunjukkan bahwa kopi kini telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus peluang usaha yang menarik.
“Saya kagum melihat peserta yang hadir sangat beragam. Ada orang tua, ada anak-anak muda, dan mereka sama-sama ingin belajar tentang dunia kopi. Ini menunjukkan bahwa industri kopi semakin diminati oleh berbagai generasi,” ujarnya.
Marsia menceritakan, perjalanannya memasuki industri kopi dimulai pada 2016 ketika mengikuti program pelatihan di Esparto Barista Course. Awalnya ia hanya ingin mengenal lebih jauh proses pengolahan kopi, namun pengalaman tersebut justru mengubah arah kariernya.
“Saya awalnya hanya ingin mengulik kopi itu seperti apa. Dari situ saya jatuh cinta dengan kopi. Tadinya hanya coba-coba selama tiga bulan, tetapi ternyata sekarang sudah hampir 10 tahun saya menjalani bisnis ini,” katanya.
Konsistensi Lebih Penting daripada Tren Sesaat
Dalam sesi diskusi, Marsia menekankan bahwa tantangan terbesar bagi pelaku usaha muda bukanlah memulai bisnis, melainkan mempertahankannya. Ia menilai banyak pelaku usaha baru menyerah terlalu cepat karena tidak memiliki perencanaan keuangan yang matang.
Menurutnya, setiap calon pengusaha perlu memahami perhitungan investasi sejak awal sebelum membuka usaha.
Di lembaga pelatihan tempat ia mengajar, peserta tidak hanya belajar meracik kopi, tetapi juga mengikuti kelas manajemen bisnis. Dalam kelas tersebut, calon pemilik usaha diajarkan menghitung besarnya investasi awal, menentukan harga jual produk, memperkirakan omzet, hingga menyusun proyeksi waktu pengembalian modal berdasarkan beberapa skenario.
Marsia menjelaskan bahwa sedikitnya terdapat tiga pendekatan dalam menghitung proyeksi usaha, yakni skenario pesimistis, realistis, dan optimistis.
“Kalau seseorang sudah tahu sejak awal bahwa dalam kondisi paling pesimistis modal baru kembali setelah satu tahun delapan bulan, maka ketika bisnis belum menghasilkan keuntungan pada tahun pertama mereka tidak akan panik. Mereka memahami bahwa kondisi tersebut memang sudah masuk dalam perhitungan,” ujarnya.
Sebaliknya, kata dia, banyak pelaku usaha muda menganggap bisnisnya gagal hanya karena belum memperoleh keuntungan dalam beberapa bulan pertama.
Padahal, menurut Marsia, tidak semua usaha berkembang dengan cepat. Sebagian bisnis membutuhkan waktu lebih lama sebelum mulai menghasilkan keuntungan.
“Yang paling penting adalah bisnis itu bisa bertahan atau sustainable. Jangan berpikir semua usaha harus langsung meledak atau viral. Yang harus dihitung lebih dulu adalah kemampuan kita menjalankan bisnis tersebut dalam jangka panjang,” katanya.
Ia juga menyarankan para pemula untuk memulai usaha dalam skala kecil apabila modal masih terbatas.
“Kalau belum siap membuka usaha besar, mulailah dari yang kecil. Dengan investasi yang lebih ringan, peluang balik modal menjadi lebih cepat dan itu akan membuat kita semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha.”
Margin Keuntungan Dinilai Masih Menarik
Marsia menilai bisnis kopi masih menawarkan prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara disiplin.
Sebagai ilustrasi sederhana, ia menjelaskan bahwa apabila seluruh biaya produksi satu cangkir kopi—mulai dari biji kopi, susu, hingga biaya operasional—berada di kisaran Rp10.000, kemudian dijual dengan harga sekitar Rp20.000, maka pelaku usaha berpotensi memperoleh margin keuntungan sekitar 50 persen.
“Dengan asumsi penjualan sekitar 100 cangkir per hari, pelaku usaha sudah bisa menghitung sendiri potensi omzet dan keuntungan yang diperoleh. Yang penting adalah memastikan usaha itu berjalan secara berkelanjutan,” katanya.
Menurut Marsia, keberhasilan bisnis kopi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meracik minuman, tetapi juga oleh pengelolaan keuangan, konsistensi kualitas produk, pelayanan kepada pelanggan, dan kemampuan menjaga keberlangsungan usaha.
Saat ini, ia mengaku memfokuskan usahanya pada penyediaan pasokan kopi (coffee supply) serta pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan barista. Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kualitas industri kopi Indonesia di tengah meningkatnya permintaan pasar.



