Nevi Zuairina Desak Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Ancaman El Nino

VOICE OF JAKARTA | Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nevi Zuairina, meminta pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan dapat memicu kekeringan berkepanjangan, mengganggu produksi pangan, serta mengancam ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut Nevi, fenomena iklim tersebut harus diantisipasi melalui langkah-langkah yang terukur, cepat, dan terintegrasi agar dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.

“El Nino menjadi tantangan terhadap ketahanan pangan nasional, keberlanjutan sektor pertanian, hingga kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah yang terukur, cepat, dan terintegrasi agar dampaknya dapat diminimalkan,” ujar Nevi dalam keterangannya.

Ketahanan Pangan dan Air Jadi Prioritas

Legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat II itu menilai penguatan ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air harus menjadi fokus utama pemerintah dalam menghadapi musim kering.

Ia mendorong percepatan diversifikasi pangan dengan mengembangkan komoditas yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, seperti sorgum, jagung, dan ubi, terutama di luar Pulau Jawa.

“Pemerintah perlu mempercepat diversifikasi pangan dengan mendorong pengembangan komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti sorgum, jagung, dan ubi, terutama di luar Pulau Jawa,” katanya.

Selain diversifikasi pangan, Nevi meminta pemerintah menjaga kecukupan cadangan beras nasional dan menyiapkan operasi pasar apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas harga serta menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Di sektor sumber daya air, ia mendorong percepatan pembangunan embung, sumur resapan, rehabilitasi jaringan irigasi, serta distribusi air bersih ke daerah-daerah yang terdampak kekeringan melalui koordinasi antara pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan kementerian terkait.

“Kita tidak boleh menunggu sampai krisis terjadi. Ketahanan pangan dan ketersediaan air harus dipersiapkan sejak dini agar masyarakat tetap terlindungi ketika dampak El Nino semakin terasa,” ujarnya.

BACA JUGA  Prabowo Dorong Ketahanan Pangan dan Energi ASEAN di Tengah Gejolak Global

Perlindungan Petani dan Nelayan

Nevi juga menekankan pentingnya dukungan kepada petani dan nelayan sebagai kelompok yang dinilai paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Ia mengusulkan penyediaan subsidi benih, bantuan pompa air, penguatan program asuransi pertanian, serta peningkatan sosialisasi mengenai pola tanam yang disesuaikan dengan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat kekeringan.

Antisipasi Dampak Kesehatan dan Energi

Selain sektor pangan, Nevi mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi potensi meningkatnya gangguan kesehatan selama musim kering, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan dehidrasi.

Ia meminta pemerintah menyiapkan posko kesehatan, memastikan ketersediaan obat-obatan, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan air secara bijaksana.

Di sektor energi, Nevi juga mengingatkan perlunya menjaga stabilitas pasokan listrik, terutama di wilayah yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif, termasuk penyediaan sumber pembangkit cadangan apabila diperlukan.

Dorong Sinergi Nasional

Nevi menilai keberhasilan menghadapi dampak El Nino bergantung pada koordinasi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga teknis, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi El Nino dengan lebih tangguh, melindungi masyarakat, serta menjaga ketahanan pangan dan sumber daya air nasional,” tutup Nevi Zuairina.

Fenomena El Nino merupakan pola iklim yang dapat menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam beberapa periode sebelumnya, kondisi tersebut telah berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, berbagai pihak terus mendorong langkah mitigasi dan kesiapsiagaan untuk mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan perekonomian nasional.

BACA JUGA  Laporan Terbaru BNPB 11 Mei 2026 Banjir dan Karhutla Dominasi Bencana Nasional

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER