Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas ke Level Rp 17.000 per Dolar AS

Deadline – Nilai Tukar Rupiah anjlok ke level Rp17.000 per dolar AS, hal ini menjadi sorotan utama pasar keuangan pada perdagangan Senin (9/3/2026). Nilai tukar rupiah terjun bebas hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pada saat yang sama, pasar saham Indonesia ikut terpukul setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hampir 5 persen.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan IHSG ini dipicu oleh gejolak geopolitik global yang semakin panas, khususnya konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut membuat pasar keuangan global diliputi ketidakpastian dan memicu aksi jual besar-besaran di berbagai instrumen investasi.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan pada pasar saham terjadi karena kombinasi faktor eksternal dan internal yang datang secara bersamaan.

Menurutnya, faktor eksternal terbesar berasal dari meningkatnya konflik militer di Timur Tengah. Iran kini dipimpin oleh Mojtaba Khamenei, yang menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini setelah wafat akibat serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Karakter kepemimpinan Mojtaba disebut memiliki garis keras yang mirip dengan pendahulunya.

Situasi ini membuat potensi konflik berkepanjangan semakin besar. Para analis memperkirakan ketegangan militer di kawasan tersebut dapat berlangsung setidaknya enam bulan ke depan.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan niat untuk mengganti rezim di Iran. Pernyataan tersebut memicu respons keras dari berbagai pihak dan membuat situasi keamanan kawasan semakin tidak stabil.

Dampak langsung dari konflik ini adalah penutupan jalur strategis perdagangan energi di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Akibat gangguan tersebut, sejumlah negara produsen minyak seperti Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi mulai mengurangi produksinya. Penurunan pasokan energi global langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.

BACA JUGA  Denda Tidak Lapor SPT 2026 Mengintai! Ini Besaran Sanksi dan Cara Lapor Pajak Lewat Coretax

Saat ini harga minyak mentah jenis Brent dan crude oil tercatat mencapai sekitar 117 dolar AS per barel. Bahkan sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda dalam waktu satu bulan ke depan.

Lonjakan harga energi ini dikhawatirkan memicu krisis ekonomi global. Ibrahim mengingatkan bahwa situasi tersebut memiliki kemiripan dengan krisis ekonomi tahun 2008 yang terjadi setelah konflik militer Amerika Serikat dan sekutunya di Irak.

Selain faktor global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga diperkuat oleh sentimen dari dalam negeri. Pemerintah Indonesia diperkirakan menghadapi risiko defisit anggaran yang lebih besar akibat lonjakan harga minyak dunia.

Jika harga minyak tetap berada di atas 100 dolar AS per barel, beban subsidi energi berpotensi meningkat tajam. Pemerintah sebelumnya menyebut harga minyak sekitar 92 dolar per barel masih berada dalam batas normal untuk menjaga stabilitas fiskal.

Namun dengan harga minyak yang kini menembus 117 dolar AS, defisit anggaran negara diperkirakan bisa melebar hingga 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Informasi tersebut juga telah disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah melakukan penyesuaian anggaran, termasuk kemungkinan pengurangan dana untuk beberapa program prioritas seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain tekanan fiskal, dinamika politik juga turut memberi sentimen negatif bagi pasar. Dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para ulama, muncul dorongan agar Indonesia keluar dari inisiatif Board of Peace (BoP) yang digagas oleh pemerintahan Trump.

Desakan tersebut berkaitan dengan sikap Indonesia terhadap konflik Palestina. Jika kebijakan tersebut berubah, pasar menilai akan ada dampak geopolitik dan diplomasi yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.

BACA JUGA  Industri Rokok Terpukul! 4 Ribu Pabrik Tumbang dalam 10 Tahun, Ancaman PHK dan Rokok Ilegal Mengintai

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pasar keuangan domestik sempat mengalami tekanan tajam sejak pembukaan perdagangan pagi. Indeks dolar global melonjak tajam dan memicu pelemahan pada berbagai aset, termasuk rupiah.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat turun hampir 5 persen sebelum akhirnya sedikit membaik. Hingga siang hari, pelemahan indeks tercatat sekitar 3,57 persen di level 7.315.

Situasi ini menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik global. Jika konflik di Timur Tengah terus memanas dan harga minyak tidak turun, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER