3 Jurnalis Dibunuh oleh Israel dengan Keji di Lebanon: Kejahatan Perang Terang-Terangan Zionis di Timur Tengah

Deadline – Jurnalis dibunuh di Lebanon kembali memicu kecaman keras. Tiga jurnalis tewas setelah mobil yang mereka tumpangi dihantam rudal presisi pada Sabtu di wilayah Jezzine, Lebanon selatan.

Jurnalis dibunuh di Lebanon terjadi saat korban sedang bekerja. Mereka adalah Ali Shoeib dari Al-Manar TV, Fatima Ftouni dan saudaranya Mohammed Ftouni dari Almayadeen. Ketiganya tewas di lokasi setelah kendaraan mereka menjadi target serangan langsung.

Serangan terjadi di Jezzine, wilayah yang jauh dari garis depan konflik. Rekaman video menunjukkan sedikitnya empat rudal ditembakkan ke arah mobil tersebut. Salah satu rudal bahkan terlihat jatuh di antara kendaraan korban dan warga yang mencoba memberi pertolongan.

Serangan rudal Israel juga menyasar tim penyelamat. Saat ambulans tiba, paramedis ikut menjadi target serangan lanjutan. Satu tenaga medis dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.

Jaringan Almayadeen mengonfirmasi kematian Fatima Ftouni yang selama ini aktif meliput konflik di Lebanon selatan. Ia dikenal sebagai wartawan lapangan yang rutin melaporkan kondisi warga di tengah konflik bersenjata.

Ali Shoeib dikenal sebagai koresponden senior yang telah meliput konflik selama lebih dari 30 tahun. Ia terlibat dalam peliputan berbagai peristiwa penting, termasuk konflik tahun 1993, Operasi Grapes of Wrath 1996, hingga perang Lebanon 2006.

Selama kariernya, Shoeib kerap berada di garis depan konflik. Ia bahkan menjadi salah satu jurnalis pertama yang masuk ke wilayah Maroun al-Ras saat gencatan senjata tahun 2006 diumumkan.

Israel klaim target militer dalam serangan ini. Militer Israel menyebut Ali Shoeib sebagai bagian dari unit Radwan Hizbullah. Mereka menuduh aktivitas jurnalistiknya digunakan untuk membantu operasi militer.

Namun, hukum internasional menyatakan jurnalis adalah warga sipil. Menargetkan jurnalis dalam konflik bersenjata masuk kategori kejahatan perang.

BACA JUGA  Rudal Iran Menggempur Israel. Timur Tengah Kian Memanas, Trump Ngamuk Soal Hormuz

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras serangan tersebut. Ia menegaskan para korban adalah warga sipil yang menjalankan tugas profesional. Pemerintah Lebanon menyebut insiden ini sebagai kejahatan perang yang terang-terangan.

Menteri Penerangan Lebanon, Paul Morcos, menyatakan pemerintah telah mengumpulkan bukti serangan terhadap jurnalis dan tenaga medis. Data tersebut akan diserahkan ke PBB dan Uni Eropa.

Data korban wartawan meningkat sejak konflik memanas. Sejak 13 Oktober 2023, sembilan jurnalis tewas di Lebanon akibat serangan Israel. Secara total, lebih dari 220 jurnalis dilaporkan tewas sejak 2023 menurut Reporters Without Borders.

Konflik di Lebanon meningkat sejak 2 Maret setelah Hizbullah meluncurkan serangan rudal ke Israel sebagai respons atas serangan AS-Israel di Iran. Eskalasi ini memicu serangan udara dan operasi militer Israel di wilayah Lebanon.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 1.189 orang tewas dan 3.427 lainnya terluka akibat serangan Israel. Korban termasuk 48 tenaga medis. Di pihak lain, tiga tentara Israel di Lebanon selatan dan satu warga di Israel utara tewas akibat serangan Hizbullah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER