Deadline – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Amerika Latin di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Pertemuan yang dinamai “Shield of the Americas” itu bertujuan memperkuat pengaruh Washington sekaligus menahan ekspansi ekonomi China di kawasan tersebut.
Selama dua dekade terakhir, China berhasil memperluas pengaruh ekonominya di Amerika Latin. Bahkan di beberapa negara, Beijing telah melampaui Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama. Situasi ini mendorong pemerintahan Trump, yang kini menjalani masa jabatan kedua, untuk melakukan langkah strategis guna membalikkan keadaan.
Langkah Tekanan hingga Diplomasi Tingkat Tinggi
Sebelum menggelar pertemuan ini, pemerintah AS sudah melakukan berbagai manuver terhadap negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan China.
Beberapa pejabat dari Kosta Rika, Panama, dan Chile bahkan dilaporkan kehilangan visa Amerika Serikat karena dianggap memiliki hubungan erat dengan Beijing. Pemerintahan Trump juga sempat mengancam akan mengambil kembali kendali atas Terusan Panama jika terbukti adanya operasi China di jalur pelayaran strategis tersebut.
Selain itu, setelah operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro, pemerintah Venezuela dipaksa menghentikan ekspor minyak ke China.
Kini, Trump mencoba pendekatan berbeda dengan membuka dialog langsung melalui KTT “Shield of the Americas”.
Negara Peserta dan Strategi Aliansi Ideologis
Gedung Putih mengonfirmasi hampir selusin negara menghadiri pertemuan tersebut. Negara-negara yang hadir antara lain Argentina, Bolivia, Chile, Kosta Rika, Ekuador, El Salvador, Republik Dominika, Honduras, Panama, Paraguay, serta Trinidad dan Tobago.
Namun dua ekonomi terbesar di kawasan, yaitu Brasil dan Meksiko, tidak diundang. Kedua negara itu saat ini dipimpin oleh pemerintahan berhaluan kiri.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut pertemuan ini sebagai langkah untuk memperkuat “Donroe Doctrine”, sebuah strategi geopolitik yang bertujuan mempertahankan dominasi Amerika Serikat di belahan bumi Barat.
China Semakin Kuat di Amerika Latin
Upaya Washington menahan pengaruh Beijing tidak akan mudah. China kini memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia dan telah menanamkan investasi besar di Amerika Latin, mulai dari proyek infrastruktur hingga pinjaman pembangunan.
Pada tahun 2024, nilai perdagangan bilateral China dengan negara-negara Amerika Latin mencapai 518 miliar dolar AS, rekor tertinggi bagi Beijing.
Sementara itu, Amerika Serikat masih menjadi kekuatan perdagangan terbesar secara keseluruhan di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Pada 2024, impor AS dari kawasan tersebut mencapai 661 miliar dolar AS, sedangkan ekspornya sekitar 517 miliar dolar AS.
Namun banyak negara di kawasan kini memilih menjaga hubungan dengan kedua kekuatan ekonomi tersebut secara seimbang.
AS Harus Menawarkan Keuntungan Ekonomi Nyata
Para analis menilai Washington tidak bisa hanya meminta negara-negara Amerika Latin menjauh dari China tanpa memberikan alternatif nyata.
Ahli hubungan internasional dari Pontifical Catholic University di Chile, Francisco Urdinez, menyebut negara-negara di kawasan berharap Amerika Serikat memberikan manfaat ekonomi konkret.
“Negara-negara itu ingin dukungan ekonomi yang jelas, bukan sekadar janji politik,” ujarnya.
Senada dengan itu, Gimena Sanchez dari Washington Office on Latin America menyatakan sebagian besar negara di kawasan saat ini memiliki China sebagai mitra dagang utama atau salah satu yang terbesar.
Karena itu, jika Amerika Serikat ingin mengurangi pengaruh Beijing, Washington harus menawarkan keuntungan ekonomi yang nyata.
Insentif Ekonomi Sudah Mulai Ditawarkan
Trump sebenarnya sudah mulai memberikan insentif ekonomi kepada sekutunya di kawasan. Salah satu contoh adalah kesepakatan pertukaran mata uang senilai 20 miliar dolar AS dengan Argentina untuk memperkuat nilai peso.
Langkah ini juga memperkuat hubungan Trump dengan Presiden Argentina Javier Milei yang memiliki pandangan politik sejalan dengan pemerintahannya.
Selain itu, Amerika Serikat juga meningkatkan kuota impor daging sapi dari Argentina meskipun mendapat protes dari peternak di dalam negeri.
Persaingan Sumber Daya Strategis
Persaingan AS dan China juga terkait sumber daya alam strategis di Amerika Latin. Kawasan ini memiliki cadangan mineral penting yang dibutuhkan industri teknologi modern.
Bolivia, Argentina, dan Chile diketahui memiliki cadangan lithium terbesar di dunia. Logam ini sangat penting untuk produksi baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Washington khawatir China dapat memanfaatkan sumber daya tersebut untuk memperkuat kemampuan teknologi dan pertahanan militernya.



