Deadline – Donald Trump Mulai Terdesak Hadapi Iran menjadi sorotan dunia setelah dokumen intelijen Amerika Serikat bocor di tengah perang yang memasuki pekan kedua. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berkembang menjadi salah satu krisis geopolitik paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir.
Perang yang dimulai pada akhir Februari itu tidak hanya melibatkan serangan udara besar-besaran, tetapi juga memicu ketegangan politik global. Bocornya dokumen Dewan Intelijen Nasional (NIC) Amerika Serikat menunjukkan adanya pesimisme di internal pemerintah Washington mengenai keberhasilan operasi militer terhadap Iran.
Dalam analisis intelijen tersebut disebutkan bahwa serangan besar sekalipun tidak akan dengan mudah menggulingkan rezim Iran. Struktur politik dan militer negara itu dinilai sangat kuat serta dirancang agar tetap bertahan bahkan jika pemimpin tertingginya terbunuh.
Situasi semakin rumit setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut juga disebut menewaskan sejumlah anggota keluarga Khamenei.
Namun, kematian Khamenei tidak otomatis melemahkan sistem pemerintahan Iran. Struktur kekuasaan negara itu memungkinkan proses suksesi berjalan cepat sehingga pemerintahan tetap stabil meski kehilangan pemimpin tertinggi.
Di tengah kondisi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru mengambil langkah kontroversial. Ia menyerukan rakyat Iran untuk berlindung selama serangan berlangsung, lalu mengambil alih pemerintahan setelah rezim runtuh.
Donald Trump juga meminta pasukan Garda Revolusi Iran untuk menyerah dengan imbalan imunitas. Namun, seruan itu dinilai hampir mustahil terjadi mengingat struktur militer Iran yang masih solid dan loyal terhadap pemerintahan di Teheran.
Donald Trump bahkan menyatakan ingin ikut menentukan siapa yang akan menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran. Donald Trump menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei, putra Khamenei, menjadi penerus kekuasaan.
Ia mengklaim telah memiliki “tiga nama bagus” yang dianggap cocok memimpin Iran, tetapi tidak mengungkapkan identitas tokoh-tokoh tersebut kepada publik.
Memasuki hari kesembilan perang, Donald Trump juga kembali meningkatkan tekanan militer. Pada Sabtu (7/3/2026), ia mengisyaratkan kemungkinan operasi darat jika serangan udara tidak berhasil mencapai tujuan strategis.
Menurut Donald Trump, konflik dapat berakhir jika Iran tidak lagi memiliki kekuatan militer yang berfungsi atau kepemimpinan yang masih berkuasa. Ia bahkan menyatakan bahwa pada titik tertentu mungkin tidak akan ada lagi pihak yang tersisa untuk menyatakan menyerah.
Ancaman tersebut langsung mendapat respons keras dari pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari pasukan Amerika Serikat.
Dalam wawancara video dari Teheran pada Kamis (5/3/2026), Araghchi menyatakan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata meskipun wilayahnya terus dibombardir.
Ia bahkan menantang langsung ancaman invasi tersebut. Menurutnya, jika pasukan Amerika benar-benar masuk ke wilayah Iran, hal itu justru akan menjadi bencana besar bagi pihak penyerang.
“Kami bahkan menunggu mereka. Kami yakin dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” kata Araghchi.
Sementara itu, gelombang serangan udara intensif masih terus mengguncang berbagai kota di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Laporan terbaru menyebutkan jumlah korban tewas sejak 28 Februari telah mencapai sedikitnya 1.332 orang.
Selain korban jiwa, dampak militer juga sangat besar. Sekitar 3.000 target militer dilaporkan telah dihancurkan dalam operasi tersebut, termasuk 43 kapal perang Iran.
Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Iran memperingatkan bahwa kapal militer Amerika Serikat maupun Israel yang memasuki wilayah tersebut dapat menjadi target serangan.
Pemerintah Iran juga memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak ikut campur dalam konflik tersebut. Jika terlibat secara militer, negara-negara Eropa disebut berpotensi menjadi target sah serangan Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, Rusia dilaporkan memberikan dukungan intelijen kepada Iran. Moskow juga disebut memanfaatkan lonjakan permintaan energi global akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini membuat konflik tidak lagi sekadar perang regional. Ketegangan antara kekuatan besar dunia kini semakin terasa, sementara pasar energi global mulai mengalami guncangan.
Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia menjadi titik paling rawan dalam konflik ini. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya dapat menjalar ke ekonomi global dan stabilitas politik internasional.
Dengan ancaman invasi darat dari Amerika Serikat serta dukungan Rusia kepada Iran, perang ini berpotensi berkembang menjadi krisis internasional terbesar dalam dekade terakhir.



