Agenda Besar Donald Trump di Iran? Perang Kian Memanas, Dunia Pertanyakan Akhir Strategi Washington

Deadline – Donald Trump dan perang Iran menjadi sorotan dunia setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki minggu kedua dengan serangan yang terus meningkat. Hingga kini, tujuan akhir dari strategi Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih dipertanyakan karena pernyataannya sering berubah dan tidak selalu konsisten.

Perang yang dimulai dengan serangan udara besar pada 28 Februari itu telah memicu eskalasi militer besar di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap hampir 2.000 target di Iran. Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat penting, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, yang telah memimpin negara itu selama 37 tahun.

Serangan militer juga menghantam fasilitas nuklir, kawasan sipil, hingga infrastruktur vital seperti kilang minyak dan pabrik desalinasi air. Akibat konflik ini, lebih dari 1.200 warga Iran dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 160 anak-anak yang menjadi korban ketika sebuah sekolah terkena bom. Di sisi lain, tujuh tentara Amerika juga dilaporkan tewas.

Iran Balas Serangan dengan Ratusan Rudal

Iran tidak tinggal diam. Pemerintah di Teheran meluncurkan ratusan rudal dan ribuan drone ke berbagai target di Israel serta beberapa negara Teluk. Iran menyatakan serangan tersebut diarahkan ke pangkalan militer yang digunakan Amerika Serikat, fasilitas energi, kedutaan besar AS, serta beberapa wilayah sipil.

Meski pertempuran semakin meluas, analis menilai pemerintah AS belum menjelaskan secara jelas bagaimana perang ini akan diakhiri.

Dugaan Tujuan Utama: Menggulingkan Pemerintahan Iran

Salah satu dugaan tujuan utama dari operasi militer ini adalah memicu runtuhnya pemerintahan Iran dari dalam. Serangan awal yang menewaskan Ali Khamenei dianggap sebagai upaya melemahkan struktur kekuasaan Republik Islam Iran.

BACA JUGA  Warga Palestina Dilempar Granat oleh Pasukan Israel Saat Salat Idulfitri di Al-Aqsa

Beberapa pengamat menilai strategi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa jika pemimpin tertinggi dan elite militer disingkirkan, sistem politik Iran akan runtuh atau melemah secara drastis.

Namun kenyataannya berbeda. Meski sejumlah komandan militer Iran terbunuh, struktur negara tetap bertahan. Bahkan Iran segera menunjuk pemimpin baru, yaitu Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang berusia 56 tahun.

Penunjukan ini justru menunjukkan bahwa sistem kekuasaan Iran masih solid.

Upaya Negosiasi dengan Garda Revolusi Iran

Dalam beberapa pernyataan awal, Trump juga sempat menawarkan kesepakatan kepada anggota Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC. Ia meminta mereka menyerah dengan imbalan kekebalan hukum.

Trump bahkan sempat mengajak diplomat Iran untuk berpihak kepada Amerika Serikat.

Namun tawaran tersebut ditolak. IRGC justru memimpin serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Para diplomat Iran juga menyatakan tetap setia kepada Republik Islam Iran.

Target Lain: Menghancurkan Kekuatan Militer Iran

Pemerintah AS juga menegaskan bahwa salah satu tujuan perang adalah menghancurkan kemampuan militer Iran. Target utama meliputi rudal balistik, fasilitas produksi senjata, serta kekuatan angkatan laut Iran.

Serangan udara Amerika dan Israel dilaporkan telah menghancurkan sejumlah infrastruktur militer, termasuk kapal perang Iran di perairan dekat Sri Lanka. Kedua negara juga mengklaim telah menguasai wilayah udara Iran.

Namun para pakar menilai kekuatan militer saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan politik di Iran.

Donald Trump Minta Iran Menyerah Tanpa Syarat

Dalam pesan di media sosial, Trump menyatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali mereka menyerah tanpa syarat.

Ia bahkan mengatakan bahwa setelah pemerintahan Iran menyerah, pemimpin baru yang “baik dan dapat diterima” harus dipilih.

BACA JUGA  Iran Bukan Negara Arab! Ini Fakta Sejarah, Bahasa, dan Etnis yang Sering Disalahpahami

Namun pemerintah Iran menolak keras tuntutan tersebut. Teheran menegaskan tidak akan menyerah, tidak akan bernegosiasi di bawah serangan militer, dan tidak akan menerima pemimpin yang dipaksakan dari luar negeri.

Skenario Lain: Serangan Kurdi atau Invasi Darat

Beberapa opsi lain juga disebut pernah dipertimbangkan oleh pemerintahan Trump, termasuk kemungkinan melibatkan kelompok Kurdi untuk menyerang Iran.

Namun para analis menilai kelompok Kurdi tidak memiliki kemampuan militer atau logistik untuk melakukan invasi besar ke Iran. Selain itu, langkah tersebut berpotensi memicu konflik baru dengan Turkiye.

Opsi invasi darat oleh pasukan Amerika juga dinilai kecil kemungkinan terjadi. Pengalaman perang di Iraq dan Afghanistan masih membekas di politik domestik Amerika Serikat.

Tujuan Israel: Mengubah Peta Timur Tengah

Sementara itu, Israel memiliki agenda strategis yang lebih luas. Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel disebut ingin merombak keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Iran dianggap sebagai musuh utama yang harus dilemahkan agar tidak lagi mampu menantang dominasi Israel di kawasan.

Akhir Perang Masih Tanda Tanya

Para analis menilai skenario paling realistis bagi Amerika Serikat bukanlah invasi darat, melainkan kesepakatan yang dipaksakan melalui tekanan militer.

Dalam skenario ini, Washington dapat mengklaim kemenangan dengan menyatakan bahwa pemimpin Iran telah tewas, kemampuan militer Iran telah dilemahkan, dan pembatasan baru terhadap program nuklir serta rudal Iran telah tercapai.

Jika hal itu terjadi, Trump kemungkinan akan mengakhiri perang dengan menyatakan tujuan Amerika telah tercapai.

Namun hingga kini, dengan serangan yang terus berlangsung dan tuntutan yang berubah-ubah, akhir dari perang besar ini masih menjadi tanda tanya bagi dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER