Donald Trump Dipermalukan Sekutu NATO, Negara Sahabat AS Tolak Perangi Iran

Perang panjang Menghantui Sekutu Amerika Serikat

Deadline – Trump dipermalukan sekutu NATO setelah sejumlah negara sahabat Amerika Serikat menolak permintaan Washington untuk bergabung dalam koalisi perang melawan Iran. Penolakan ini terjadi ketika konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah dua pekan serangan udara yang menghantam berbagai fasilitas militer Iran.

Serangan udara intensif yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel menghantam depot senjata, pusat komando, serta fasilitas militer milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun di luar medan tempur, tekanan diplomatik justru menjadi pukulan besar bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Alih-alih mendapatkan dukungan internasional, Washington menghadapi penolakan dari sekutu-sekutu terdekatnya sendiri.

Sekutu Barat Serentak Menolak Ajakan Perang

Sekutu NATO menolak perang Iran secara tegas ketika Trump meminta dukungan untuk membentuk “koalisi pembuka blokade” di Selat Hormuz. Negara-negara yang selama ini menjadi mitra strategis Amerika memilih tidak ikut terlibat.

Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Australia, Jepang, Korea Selatan, hingga Yunani menyampaikan sikap serupa: mereka tidak akan ikut dalam konflik tersebut.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan bahwa perang itu bukan kepentingan negaranya.

“Ini bukan perang kami,” tegasnya saat menolak permintaan Washington.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyampaikan posisi serupa. Ia menegaskan Inggris tidak ingin terseret ke dalam konflik yang berpotensi meluas di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu pemerintah Prancis menyatakan sikap defensif. Paris menegaskan tidak akan mengirim kapal perang atau bergabung dalam operasi militer melawan Iran.

Penolakan kolektif ini dipandang sebagai pukulan diplomatik serius bagi pemerintahan Trump.

Tujuan Perang Dinilai Tidak Jelas

Sejumlah analis keamanan internasional menilai tujuan perang Amerika terhadap Iran masih kabur.

Koresponden keamanan BBC, Frank Gardner, menjelaskan bahwa tujuan Washington tampak berubah-ubah. Dalam satu sisi, Amerika ingin membatasi program nuklir Iran. Namun di sisi lain, ada wacana yang lebih jauh yakni memaksa Iran menyerah atau bahkan menjatuhkan rezim Republik Islam.

BACA JUGA  Viral! Presiden Korea Selatan Unggah di Medsos Kekejaman Tentara Israel Menyiksa Anak Palestina

Dalam skenario ideal Washington, konflik ini berakhir dengan runtuhnya pemerintahan para ayatollah dan digantikan rezim yang lebih demokratis serta tidak lagi mengancam kawasan.

Namun hingga kini tidak ada tanda-tanda bahwa skenario tersebut akan terjadi.

Gardner menilai tekanan politik terhadap Trump semakin meningkat. Jika rezim Teheran mampu bertahan, perang ini berisiko dianggap sebagai kegagalan strategis bagi Amerika Serikat.

Iran Bertahan dengan “Kesabaran Strategis”

Bagi Iran, konflik ini dianggap sebagai perang mempertahankan eksistensi negara.

Teheran memang ingin perang segera berakhir. Namun pemerintah Iran menolak menghentikan konflik jika harus menyerah pada semua tuntutan Washington dan Tel Aviv.

Iran memiliki keunggulan geografis di Teluk Persia, termasuk garis pantai yang panjang dan kemampuan mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Selat ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.

Iran juga menuntut jaminan keamanan penuh serta kompensasi miliaran dolar atas kerusakan akibat serangan udara.

Meski tuntutan itu sulit dipenuhi, kepemimpinan Iran hanya perlu bertahan dari perang ini untuk mengklaim kemenangan politik di dalam negeri.

Israel Ingin Hancurkan Kapasitas Militer Iran

Di antara tiga aktor utama konflik, Israel dianggap sebagai pihak yang paling tidak terburu-buru untuk mengakhiri perang.

Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berfokus pada penghancuran kemampuan militer Iran, khususnya stok rudal balistik, sistem radar, depot senjata, dan pangkalan militer IRGC.

Israel ingin memastikan bahwa Iran memahami konsekuensi serius jika terus mengembangkan ancaman militer terhadap negara Yahudi tersebut.

Angkatan Udara Israel juga diyakini memiliki kemampuan untuk kembali menyerang fasilitas militer Iran kapan saja dalam beberapa bulan mendatang.

Negara Teluk Terjebak di Tengah Konflik

Negara-negara Teluk Arab berada dalam posisi paling sulit dalam konflik ini.

BACA JUGA  Ramadan Berdarah: Serangan Israel hingga Konflik Timur Tengah Berulang di Bulan Suci

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman tidak mendukung perang. Namun wilayah mereka tetap menjadi target serangan rudal dan drone Iran.

Dalam satu hari saja, sistem pertahanan udara Arab Saudi dilaporkan mencegat lebih dari 60 proyektil yang diarahkan ke wilayahnya.

Seorang pejabat Teluk menyatakan bahwa hubungan dengan Teheran kini berada di titik terendah.

Ia menyebut “garis merah telah dilanggar” dan kepercayaan terhadap Iran hampir tidak ada lagi.

Penolakan Sekutu Picu Ketegangan Baru

Di Eropa, sebagian kalangan bahkan melihat penolakan terhadap permintaan Trump sebagai bentuk “balas dendam diplomatik”.

Sejak awal masa jabatan keduanya, Trump kerap mengkritik sekutu Eropa terkait pembiayaan NATO dan kebijakan keamanan.

Kini ketika Washington membutuhkan dukungan militer, negara-negara tersebut justru menolak bergabung.

Trump sendiri merespons dengan nada keras melalui platform Truth Social. Ia menyatakan Amerika akan mengingat negara-negara yang menolak memberikan dukungan.

Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa hubungan transatlantik bisa kembali tegang.

Risiko Perang Panjang Menghantui Dunia

Konflik yang awalnya diperkirakan sebagai operasi militer terbatas kini berisiko berkembang menjadi perang panjang.

Analis geopolitik Robert D. Kaplan memperingatkan bahwa banyak perang besar dalam sejarah dimulai dari operasi singkat yang kemudian berubah menjadi konflik mahal dan berkepanjangan.

Perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan menjadi contoh nyata bagaimana operasi militer dapat berkembang menjadi konflik bertahun-tahun.

Saat ini harga minyak global mulai naik, jalur perdagangan di Selat Hormuz terganggu, dan ketidakpastian ekonomi meningkat.

Di Teluk Persia, kapal-kapal tanker minyak menunggu kepastian yang belum juga datang.

Sementara di Washington, pertanyaan besar masih menggantung: berapa lama perang ini dapat bertahan sebelum berubah menjadi beban politik dan ekonomi yang terlalu berat bagi Amerika Serikat dan sekutunya.

BACA JUGA  Rudal Iran Hantam Kapal Tanker AS, Kebakaran Hebat di Teluk Picu Ketegangan Baru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER