Deadline – Netanyahu kembali menjadi sorotan dunia setelah pernyataannya yang menyebut Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan memicu kemarahan luas, terutama dari umat Kristen. Pernyataan ini disampaikan saat ia membahas konflik Timur Tengah yang terus memanas.
Netanyahu mengaitkan ucapannya dengan realitas perang, dengan menekankan bahwa kekuatan dan kekejaman dapat mengalahkan nilai moral jika tidak diimbangi kekuatan militer. Pernyataan ini langsung menuai kritik karena dianggap merendahkan figur suci dalam agama Kristen.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis (19/3), Netanyahu menyampaikan bahwa dalam sejarah, kekuatan sering kali menentukan hasil akhir konflik. Ia membandingkan Yesus Kristus, simbol perdamaian, dengan Genghis Khan, tokoh penakluk yang dikenal karena ekspansi brutal Kekaisaran Mongol.
Konflik Timur Tengah Memanas
Ucapan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik besar di kawasan Timur Tengah. Sejak 28 Februari, serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran telah menyebabkan lebih dari 1.200 korban jiwa, termasuk tokoh penting Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan pesawat tak berawak dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. Dampaknya meluas, mulai dari korban sipil hingga gangguan serius terhadap infrastruktur dan pasar global.
Kritik Keras dari Iran dan Tokoh Agama
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka mengecam pernyataan tersebut. Ia menilai ucapan Netanyahu sebagai bentuk penghinaan serius terhadap Yesus Kristus.
Araghchi juga menyinggung bahwa pernyataan tersebut ironis, mengingat dukungan politik yang selama ini diterima Israel dari komunitas Kristen, khususnya di Amerika Serikat.
Kritik juga datang dari tokoh agama Kristen. Pendeta Lutheran Palestina, Munther Isaac, menyebut pernyataan itu tidak hanya tidak pantas, tetapi juga berbahaya secara moral.
Menurutnya, perbandingan tersebut menyiratkan bahwa ajaran damai Yesus Kristus dianggap lemah, sementara kekerasan dan kekuatan militer dipandang sebagai jalan utama untuk mencapai kemenangan.
Gelombang Reaksi di Media Sosial
Reaksi keras juga muncul di media sosial. Banyak umat Kristen menyatakan kekecewaan dan kemarahan atas perbandingan tersebut. Mereka menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah simbol cinta kasih dan perdamaian, bukan figur yang bisa disandingkan dengan penakluk perang seperti Genghis Khan.
Perdebatan pun meluas, tidak hanya soal agama, tetapi juga menyentuh isu etika kepemimpinan dan narasi yang digunakan dalam membenarkan konflik bersenjata.
Netanyahu Bantah Tuduhan
Menanggapi kontroversi tersebut, Netanyahu membantah telah menghina Yesus Kristus. Ia menegaskan bahwa pernyataannya merujuk pada pandangan sejarawan Amerika, Will Durant.
Menurutnya, Durant pernah menyatakan bahwa moralitas saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah peradaban tanpa kekuatan untuk melindungi diri.
Netanyahu menegaskan tidak ada niat untuk menyinggung umat Kristen dan menekankan bahwa Israel tetap menjadi tempat yang melindungi kebebasan beragama, termasuk bagi komunitas Kristen.
Ketegangan Politik dan Sensitivitas Agama
Kasus ini menunjukkan betapa sensitifnya penggunaan simbol agama dalam konteks politik dan konflik. Pernyataan yang dimaksudkan sebagai analisis sejarah dapat dengan cepat berubah menjadi kontroversi global ketika menyentuh keyakinan mendalam jutaan orang.
Situasi ini juga mempertegas bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak secara militer dan ekonomi, tetapi juga memicu ketegangan sosial dan keagamaan di tingkat global.



