Deadline – Kelompok Houthi menyatakan kesiapan penuh untuk membantu Iran dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat dari sekutu lama Iran di kawasan Timur Tengah.
Kelompok yang juga dikenal sebagai Ansar Allah ini menegaskan kesiapan militernya mencakup semua opsi. Pernyataan itu disampaikan oleh salah satu petinggi Houthi yang tidak ingin disebutkan namanya, seperti dikutip Jerusalem Post pada Jumat, 27 Maret 2026.
“Kami sepenuhnya siap secara militer dengan semua opsi,” ujarnya. Ia menambahkan, waktu pelibatan akan ditentukan oleh pimpinan, sambil terus memantau perkembangan konflik.
Houthi Tahan Diri, Iran Dinilai Masih Kuat
Meski siap tempur, Houthi belum turun langsung. Mereka menilai Iran masih mampu menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel tanpa bantuan tambahan.
Petinggi Houthi menyebut Iran saat ini masih menguasai jalannya pertempuran. Menurutnya, kondisi perang masih berjalan sesuai keinginan Iran.
Namun, Houthi memberi sinyal jelas. Jika situasi berubah dan Iran terdesak, mereka siap masuk ke medan konflik.
Hizbullah Sudah Bergerak Lebih Dulu
Saat Houthi masih menunggu momentum, sekutu Iran lainnya sudah lebih dulu bertindak. Hizbullah mulai terlibat sejak awal Maret 2026.
Kelompok ini melancarkan serangan ke Israel sebagai respons atas serangan yang didukung Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Menurut Israel Defense Forces, Hizbullah telah meluncurkan lebih dari 600 serangan ke berbagai kota di Israel hingga 26 Maret 2026.
Serangan Balasan Israel Hantam Beirut
Israel merespons dengan serangan langsung ke Lebanon. Target utama adalah basis Hizbullah di Beirut.
Namun dampaknya meluas. Serangan tersebut juga menghantam warga sipil dan infrastruktur publik.
Data menunjukkan setidaknya 1.116 orang tewas dan 3.229 lainnya luka-luka akibat serangan di Lebanon.
Krisis Kemanusiaan Meluas
Perang ini memicu gelombang pengungsian besar. Jutaan warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Sebagian mengungsi di dalam negeri. Sebagian lain melarikan diri ke negara tetangga untuk mencari perlindungan.
Situasi ini menunjukkan konflik tidak lagi terbatas pada militer. Dampaknya sudah meluas ke krisis kemanusiaan.



