Selat Hormuz Dicekik Iran: Strategi Bertahan yang Guncang Dunia

Deadline – Selat Hormuz menjadi kunci konflik. Satu bulan perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menunjukkan pola berbeda. Iran tidak bertarung seperti negara biasa. Iran memakai taktik mirip kelompok gerilya.

Selat Hormuz langsung berdampak global. Jalur ini sebelumnya dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Kini lalu lintas kapal turun drastis. Iran hanya mengizinkan pengiriman tertentu dengan syarat yang mereka tentukan.

Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak. Pasar saham turun. Harga barang ikut naik karena biaya produksi dan distribusi meningkat. Dampaknya terasa di Asia, Eropa, hingga Amerika.

Strategi Iran: Bertahan Lebih Lama untuk Menang

Iran sadar tidak bisa mengalahkan Amerika Serikat secara militer. Targetnya sederhana. Bertahan selama mungkin.

Analis keamanan Timur Tengah, Shukriya Bradost, menyebut strategi ini fokus pada daya tahan. Jika perang berlarut, Iran bisa mengklaim kemenangan.

Iran tetap mampu menyerang meski terus dibombardir. Serangan dilakukan dengan rudal dan drone. Sumber daya terbatas, tetapi dampaknya besar.

Teknik “Hit and Run” ala Gerilya Modern

Iran menggunakan taktik “shoot and scoot”. Peluncur rudal dipindahkan terus. Banyak yang disamarkan sebagai truk sipil. Target diluncurkan cepat lalu langsung berpindah.

Strategi ini juga dipakai kelompok seperti Houthi di Yaman. Mereka berhasil mengganggu jalur pelayaran internasional di Laut Merah.

Geografi Iran mendukung. Wilayahnya luas dan bergunung. Banyak lokasi bisa dipakai untuk menyembunyikan basis militer, termasuk fasilitas bawah tanah.

Tekanan Berat untuk Donald Trump

Dampak ekonomi langsung menekan Donald Trump. Harga energi naik saat ia sedang menghadapi tekanan biaya hidup menjelang pemilu sela.

Trump memberi tenggat waktu. Iran diminta membuka kembali Selat Hormuz sebelum 6 April. Jika tidak, Amerika mengancam menyerang pembangkit listrik Iran.

BACA JUGA  Spekulasi Kondisi Benjamin Netanyahu Menguat, 3 Hari Tanpa Video Picu Tanda Tanya Publik

Pendekatan ini disebut “escalate to de-escalate”. Amerika menambah pasukan, kapal, dan kesiapan tempur di kawasan.

Namun Iran tetap bertahan. Bahkan jika hanya sebagian kecil persenjataan tersisa, mereka masih mampu mengganggu stabilitas.

Masalah Dalam Negeri Iran Mulai Terlihat

Di dalam negeri, situasi tidak stabil. Pemerintah menghadapi tekanan dari rakyat. Protes besar pernah terjadi pada Januari.

Pasukan Basij tetap aktif di jalan. Mereka sebelumnya terlibat dalam penindakan keras terhadap demonstrasi.

Ada laporan perekrutan anak usia 12 tahun untuk memperkuat barisan. Ini menunjukkan tekanan pada kekuatan militer Iran.

Di sisi lain, kepemimpinan juga dipertanyakan. Mojtaba Khamenei belum terlihat di publik. Ada laporan ia terluka dalam perang. Komando militer terlihat tidak terpusat.

Perang yang Belum Dekat ke Akhir

Upaya gencatan senjata masih belum jelas. Amerika Serikat menyebut negosiasi berjalan. Iran membantah.

Jika negosiasi gagal, pilihan tinggal dua. Mengakhiri perang atau menaikkan eskalasi besar-besaran.

Analisis Soufan Center menyebut tekanan militer belum tentu memaksa Iran tunduk. Hasil perang tidak selalu menentukan hasil damai.

Iran tidak perlu menang di medan perang. Iran hanya perlu bertahan. Selama Selat Hormuz tetap tercekik, dampaknya akan terus menghantam ekonomi dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER