Moskow — voice of Jakarta | Presiden Rusia, Vladimir Putin, menerima laporan langsung dari Komandan Pasukan Rudal Strategis Rusia, Sergey Karakaev, terkait keberhasilan uji coba rudal balistik antarbenua terbaru RS-28 Sarmat yang diklaim menjadi tonggak penting modernisasi kekuatan nuklir strategis Rusia.
Media pemerintah Rusia melaporkan rudal tersebut diproyeksikan mulai memperkuat resimen rudal pertama Rusia sebelum akhir 2026 sebagai bagian dari penguatan sistem pertahanan strategis Moskow.
Dalam laporannya kepada Kremlin, Karakaev menyebut sistem persenjataan baru itu dirancang untuk meningkatkan kapasitas tempur strategis Rusia secara signifikan di tengah meningkatnya dinamika keamanan global.
RS-28 Sarmat merupakan rudal balistik berat berbahan bakar cair yang dikembangkan untuk menggantikan sistem lama RS-20V Voevoda, yang oleh NATO dikenal dengan nama SS-18 Satan.
Militer Rusia mengklaim rudal generasi baru tersebut memiliki daya jangkau lebih luas, kemampuan serangan lebih fleksibel, serta kapasitas muatan yang jauh lebih besar dibanding pendahulunya.
Menurut pejabat militer Rusia, Sarmat mampu membawa hingga sepuluh hulu ledak nuklir berat yang dapat memasuki kembali atmosfer dalam beberapa tahap penerbangan.
Teknologi itu disebut memungkinkan rudal menyerang target jarak jauh sekaligus meningkatkan kemampuan penetrasi terhadap sistem pertahanan rudal modern.
Karakaev mengatakan teknologi yang digunakan pada Sarmat dirancang untuk mampu menembus jaringan pertahanan anti-rudal yang saat ini digunakan maupun yang masih dikembangkan negara lain.
Keberhasilan uji coba tersebut mendapat apresiasi langsung dari Vladimir Putin, yang menyebut RS-28 Sarmat sebagai salah satu sistem rudal paling kuat yang pernah dimiliki Rusia.
Putin juga mengklaim rudal tersebut memiliki kapasitas muatan berkali-kali lipat lebih besar dibanding sejumlah rudal strategis Barat, dengan tingkat akurasi yang disebut meningkat drastis dibanding generasi sebelumnya.
Rudal Sarmat dilaporkan kompatibel dengan sistem peluncur hipersonik Avangard milik Rusia. Teknologi Avangard memungkinkan hulu ledak bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sambil melakukan manuver di atmosfer guna menghindari intersepsi sistem pertahanan lawan.
Militer Rusia juga menyebut Sarmat memiliki jangkauan ekstrem yang memungkinkan peluncuran menuju wilayah Amerika Serikat melalui jalur Kutub Selatan, strategi yang diklaim dapat menghindari jaringan pertahanan rudal Amerika di Alaska.
Menurut Kremlin, pengembangan berbagai sistem persenjataan strategis baru dilakukan sebagai respons terhadap perubahan situasi geopolitik global, termasuk keluarnya Amerika Serikat dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) pada masa pemerintahan George W. Bush.
Selain Sarmat, Rusia juga disebut tengah menyelesaikan pengembangan dua sistem persenjataan strategis lain, yakni rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik dan drone bawah laut Poseidon.
Kedua sistem tersebut dilaporkan menggunakan reaktor nuklir mini sebagai sumber tenaga utama guna meningkatkan daya jelajah dan ketahanan operasional dibanding teknologi konvensional.
Pengembangan berbagai sistem senjata strategis Rusia terus menjadi perhatian dunia internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan negara-negara Barat.
Analis pertahanan menilai modernisasi persenjataan strategis tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan keamanan global dalam jangka panjang sekaligus memperlihatkan meningkatnya persaingan teknologi militer antarnegara besar.



