Deadline – Pemberontak Kurdi Iran kembali menjadi sorotan setelah seorang pemimpin kelompok Kurdi yang berbasis di Irak mengungkap kemungkinan dilancarkannya operasi militer ke wilayah Iran. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Pemberontak Kurdi Iran disebut telah lama menyiapkan rencana operasi darat ke wilayah Iran. Babasheikh Hosseini, Sekretaris Jenderal Organisasi Khabat Kurdistan Iran yang bermarkas di Irak, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini dinilai semakin mendukung untuk melancarkan aksi militer tersebut.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Hosseini menjelaskan bahwa hingga saat ini kelompoknya belum melakukan operasi ofensif terhadap Iran. Namun rencana tersebut sudah disusun sejak lama dan peluang untuk menjalankannya semakin terbuka.
“Untuk saat ini tidak. Kami belum terlibat dalam operasi ofensif apa pun,” kata Hosseini pada Sabtu.
Meski belum ada aksi militer yang dilakukan, Hosseini menegaskan bahwa kelompoknya terus memantau perkembangan situasi di kawasan. Ia menyebut kondisi politik dan keamanan saat ini dinilai lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya.
“Kami telah merencanakannya sejak lama dan sekarang kondisinya lebih menguntungkan. Ada kemungkinan besar untuk melakukan tindakan,” ujarnya.
Hosseini juga menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai operasi militer belum diambil. Namun menurutnya peluang untuk melanjutkan rencana tersebut cukup besar jika situasi terus berkembang seperti sekarang.
Selain mengungkap rencana operasi, Hosseini juga mengklaim adanya komunikasi antara kelompoknya dengan Amerika Serikat. Kontak tersebut disebut dilakukan melalui berbagai jalur tidak langsung.
Menurut Hosseini, hingga saat ini belum pernah terjadi pertemuan langsung dengan pihak Amerika Serikat. Komunikasi yang terjadi masih melalui perantara, termasuk melalui kelompok Kurdi lainnya.
“Amerika telah menghubungi kami melalui berbagai saluran, tetapi sampai saat ini kami belum bertemu langsung dengan mereka. Kontak yang ada masih melalui perantara,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pembicaraan yang berlangsung sejauh ini masih bersifat diskusi awal mengenai kemungkinan kerja sama di masa depan, khususnya terkait sikap terhadap pemerintah Iran.
“Mereka bertanya apa yang seharusnya dilakukan terhadap rezim ini, apa cara yang mungkin ditempuh, dan apakah ada peluang untuk bekerja sama di masa depan,” jelas Hosseini.
Lebih lanjut, Hosseini menyatakan bahwa jika kerja sama operasional benar-benar terjadi, kelompoknya akan membutuhkan dukungan persenjataan dan perlengkapan militer yang lebih modern. Ia menilai peralatan yang dimiliki saat ini masih sangat terbatas dan sebagian besar sudah usang.
“Saat ini peralatan yang kami miliki masih sangat dasar dan sudah tua, sementara perang modern jauh lebih maju,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan seperti senjata modern, bahan peledak, dan peralatan militer canggih akan sangat dibutuhkan jika kerja sama militer benar-benar terwujud di masa mendatang.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat dinamis. Potensi operasi militer oleh kelompok Kurdi Iran serta kemungkinan keterlibatan pihak luar dapat memperumit kondisi geopolitik di wilayah tersebut.



