voice of Jakarta | Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menyelenggarakan seleksi kerja bagi penyandang disabilitas Tuli melalui skema rekrutmen berbasis kompetensi dan kesetaraan akses kerja bersama PT Bumi Berkah Boga atau Kopi Kenangan.
Kegiatan bertajuk Interview dan Seleksi Penempatan Tenaga Kerja bagi Penyandang Disabilitas Tuli tersebut digelar di Gedung Pusat Pasar Kerja, Jakarta, Senin (11/5).
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK), Estiarty Haryani, mengatakan program tersebut menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas.
“Kegiatan ini membuka ruang yang setara bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kompetensi dan potensi di dunia kerja,” ujar Estiarty.
Menurutnya, penempatan kerja bagi penyandang disabilitas memerlukan sistem rekrutmen yang adaptif terhadap kebutuhan komunikasi serta dukungan pendampingan yang memadai selama proses seleksi dan penempatan kerja.
Karena itu, Kemnaker memperkuat peran Pengantar Kerja dalam menjalankan fungsi job matching, job counselling, dan job intermediaries guna memastikan proses rekrutmen berjalan lebih inklusif dan efektif.
“Pengantar Kerja memastikan proses penempatan tidak hanya mempertemukan pencari kerja dengan pekerjaan, tetapi juga menjembatani kebutuhan komunikasi dan kompetensi secara tepat,” katanya.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat saat ini terdapat 1.859 Pengantar Kerja yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, baik di lingkungan kementerian, Balai Pelatihan Kerja, Dinas Ketenagakerjaan, maupun Unit Layanan Disabilitas daerah.
Dalam kegiatan tersebut, Parakerja turut mendukung proses komunikasi dan wawancara melalui penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) guna menciptakan proses seleksi yang lebih inklusif bagi peserta disabilitas Tuli.
Estiarty menegaskan penguatan penempatan kerja inklusif membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas disabilitas, dan dunia usaha agar akses kerja yang adil dapat terus diperluas.
Ia berharap model rekrutmen inklusif seperti ini dapat direplikasi lebih luas oleh perusahaan lain sehingga membuka peluang kerja berkelanjutan bagi penyandang disabilitas di berbagai sektor industri.
“Ini bagian dari upaya membangun ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan berkeadilan,” ujarnya.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kesetaraan akses kerja sekaligus mendorong dunia usaha untuk lebih terbuka terhadap tenaga kerja disabilitas yang memiliki kompetensi dan kemampuan profesional.



