Kisah Jumariah Nenek Penjaga Sawah dari Maros yang Menabung Haji di Ember Selama 20 Tahun

Makkah — voice of Jakarta | Langkah pelan Jumariah memasuki pelataran Masjidil Haram pada Minggu (10/5/2026) menjadi puncak perjalanan panjang yang ia simpan rapat selama puluhan tahun.

Di bawah terik langit Makkah, perempuan lanjut usia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu berulang kali menyeka wajahnya menggunakan ujung kerudung hitam yang dikenakannya. Namun ketika bangunan Ka’bah berdiri tepat di depan matanya, air mata itu akhirnya jatuh tanpa mampu dibendung.

“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucap Jumariah lirih saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, tempat ia menginap bersama jemaah haji Embarkasi Makassar Kloter 14 (UPG-14).

Bagi Jumariah, momen melihat Baitullah bukan sekadar perjalanan spiritual. Itu adalah jawaban atas doa-doa panjang yang ia langitkan sejak hidup sendiri usai berpisah dengan suaminya bertahun-tahun silam.

Hidup Sunyi di Maros, Menjaga Mimpi dalam Doa

Di kampung halamannya di Kabupaten Maros, kehidupan Jumariah berjalan sederhana. Perempuan yang kini diperkirakan berusia 70-an tahun itu hidup sendiri di rumah panggungnya.

Setiap pagi selepas subuh, ia memulai aktivitas dengan memberi makan ayam peliharaan, membersihkan rumah, lalu memasak untuk dirinya sendiri. Setelah itu, ia berjalan membawa sabit untuk merawat kebun ubi milik tetangganya sebelum menuju sawah kecilnya seluas sekitar 15 are.

“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri,” kenangnya sambil tersenyum.

Kesendirian tidak membuatnya merasa kehilangan arah. Di balik hidup yang sunyi, Jumariah menyimpan keyakinan besar bahwa suatu hari ia akan menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Menabung Haji dari Uang Rp50 Ribu

Jumariah tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia tidak bisa membaca maupun menulis. Namun keterbatasan itu tidak menghentikan niatnya untuk berhaji.

BACA JUGA  Kemenhaj Perkuat Transformasi Digital Haji 2026 untuk Tingkatkan Layanan Jemaah

Selama sekitar 20 tahun, ia diam-diam menyisihkan uang hasil bekerja di sawah dan kebun. Uang itu disimpannya di dalam ember di rumahnya.

“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya polos.

“Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” lanjutnya.

Pada 2011, setelah tabungannya mencapai Rp25 juta, ia akhirnya mendaftar haji dengan bantuan kemenakan jauhnya. Sejak saat itu, semangatnya semakin besar untuk melunasi biaya perjalanan haji.

Ketika namanya dipastikan berangkat pada musim haji 2026, Jumariah menjadi salah satu jemaah paling rajin mengikuti manasik. Ia rela menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer dan tercatat mengikuti lebih dari 80 kali sesi bimbingan tanpa pernah absen.

Ia selalu duduk di barisan paling depan demi menyimak arahan para pembimbing ibadah.

Dari Kampung Terpencil Menjadi Ikon “Makkah Route”

Kisah hidup Jumariah kemudian menarik perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros. Kehidupannya yang sederhana namun penuh semangat dinilai sangat menginspirasi.

Ketua Kloter UPG-14, Sitti Hawaisyah, mengatakan profil Jumariah akhirnya diajukan kepada pihak Arab Saudi untuk tampil dalam dokumenter “Makkah Route”.

“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” kata Sitti Hawaisyah.

Hanya dalam waktu empat jam, tim dokumenter merekam keseharian Jumariah di Maros. Tak disangka, video tersebut kemudian digunakan sebagai materi promosi internasional Kerajaan Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026.

Lansia dengan Fisik Seperti Anak Muda

Perjalanan ke Arab Saudi juga menjadi pengalaman pertama Jumariah menaiki pesawat terbang.

“Sempat ada rasa takut waktu naik pesawat, tapi setelah itu nyaman,” katanya sambil tersenyum.

Meski telah lanjut usia, kondisi fisiknya membuat banyak orang kagum. Selama di Madinah, ia mampu beriktikaf di Masjid Nabawi dari waktu Asar hingga Isya. Di Makkah, ia bahkan telah menyelesaikan tiga kali umrah tanpa mengeluh sakit.

BACA JUGA  Kemenhaj Siapkan Makanan Ready to Eat untuk Jemaah Haji

Menurut Sitti Hawaisyah, gelang identitas kesehatan Jumariah bahkan tidak menunjukkan riwayat penyakit serius.

“Di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” ujarnya.

Rekan sekloternya, Marwati, mengaku kerap kalah stamina dibanding Jumariah.

“Selama umrah beliau paling semangat. Kita yang muda ini sudah kecapekan, beliau masih mau jalan,” katanya.

Saat ditanya resep menjaga kebugaran di usia senja, Jumariah menjawab sederhana.

“Ke sawah setiap hari, dan banyak minum air.”

Kini, perjalanan panjang perempuan sederhana dari Maros itu tinggal menunggu puncaknya: wukuf di Padang Arafah. Di bawah langit Arafah nanti, seluruh doa yang selama puluhan tahun ia simpan di dalam ember tabungan akan menemukan jawabannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER