Amerika Serikat Sudah Habiskan Rp204 Triliun, Perang dengan Iran Belum Ada Tanda Berakhir

Deadline – Perang Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terus memanas memasuki pekan ketiga sejak dimulai pada 28 Februari 2026. Dalam waktu singkat, biaya perang yang dikeluarkan Amerika Serikat sudah mencapai US$12 miliar atau sekitar Rp204 triliun jika dihitung dengan kurs Rp17.000 per dolar AS.

Meski dana yang dikeluarkan sangat besar, hingga kini belum ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir. Ketegangan justru meningkat dan memperluas dampak keamanan di kawasan Timur Tengah.

Amerika Serikat Habiskan Rp204 Triliun untuk Perang Iran

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, mengungkapkan bahwa perkiraan biaya perang terbaru mencapai US$12 miliar.

Informasi tersebut ia sampaikan saat tampil dalam program Face the Nation di jaringan televisi CBS pada Minggu (15/1).

Dalam wawancara itu, pembawa acara Margaret Brennan menyoroti bahwa lebih dari US$5 miliar dihabiskan hanya untuk amunisi pada minggu pertama konflik. Namun Hassett tidak memberikan tanggapan langsung terhadap rincian tersebut.

Meski biaya perang sangat besar, Hassett menilai dampak ekonomi terhadap Amerika Serikat masih terkendali. Ia menyebut pasar keuangan telah memperkirakan konflik ini tidak berlangsung lama.

Menurutnya, harga kontrak energi masa depan bahkan menunjukkan ekspektasi bahwa harga energi global akan turun setelah konflik mereda.

Ancaman Iran di Selat Hormuz Bikin Pasar Gelisah

Ketegangan meningkat setelah Iran mengancam jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Selat ini sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut.

Ancaman gangguan pengiriman minyak membuat pasar energi global sempat bergejolak. Namun Hassett menilai negara-negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah akan lebih terdampak dibandingkan Amerika Serikat.

BACA JUGA  Iran Mengguncang Israel: Ancaman Keras Abbas Araghchi Ungkap Kekacauan Tel Aviv

Ia menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat saat ini berbeda dibandingkan krisis energi pada era 1970-an.

“Amerika sekarang merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Kita memiliki cadangan minyak yang sangat banyak,” ujarnya.

Serangan Militer Amerika Serikat  Diprediksi Meningkat

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memperingatkan bahwa operasi militer terhadap Iran akan meningkat secara dramatis.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa konflik berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

Namun di sisi lain, tujuan perang Amerika Serikat juga memicu perdebatan politik di dalam negeri.

Awalnya pemerintah menyatakan operasi militer bertujuan membongkar program nuklir Iran. Namun kemudian narasi tersebut bergeser menjadi melemahkan sistem rudal Iran, hingga akhirnya muncul ancaman terhadap infrastruktur minyak dan jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz.

Perubahan tujuan tersebut memicu kritik dari sejumlah politisi Amerika.

Senator Amerika Serikat Kritik Tujuan Perang yang Tidak Jelas

Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, mengaku kecewa setelah menghadiri pengarahan tertutup mengenai konflik Iran pada awal Maret.

Ia menyebut penjelasan pemerintah “sangat tidak memuaskan” karena alasan serangan militer berubah-ubah.

Sementara itu, Senator Chris Van Hollen bahkan memperingatkan bahwa Amerika Serikat telah membuka “kotak Pandora” tanpa mengetahui bagaimana konflik ini akan berakhir.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Dampak perang juga terlihat dari meningkatnya jumlah korban.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026:

  • 1.444 orang tewas di Iran
  • 13 tentara Amerika Serikat tewas
  • Lebih dari 140 tentara AS mengalami luka-luka

Pertempuran juga mulai meluas ke Lebanon, sementara sejumlah negara Teluk menghadapi serangan drone dan serangan balasan dari Iran.

Negara Lain Mulai Negosiasi Langsung dengan Iran

Ketidakpastian konflik membuat beberapa negara mengambil langkah sendiri untuk melindungi pasokan energi mereka.

BACA JUGA  Arab Saudi Mencekam, Cristiano Ronaldo Tinggalkan Riyadh Demi Keselamatan Keluarga

Salah satunya adalah India yang mulai melakukan negosiasi langsung dengan Iran.

Tujuannya adalah mengamankan jalur aman bagi kapal tanker minyak mereka yang melewati Selat Hormuz, tanpa menunggu kesepakatan dari Washington.

Langkah ini menunjukkan bahwa konflik Iran tidak hanya berdampak militer, tetapi juga mulai mempengaruhi diplomasi dan perdagangan energi global.

Ketidakpastian Perang Masih Tinggi

Hingga saat ini, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih jauh dari kata selesai.

Biaya perang terus meningkat, korban jiwa bertambah, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin melebar.

Jika eskalasi terus terjadi, perang ini berpotensi mengganggu stabilitas energi global dan memperluas konflik regional di kawasan Timur Tengah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER