Deadline – Ancaman Militer Iran terhadap perusahaan teknologi besar Amerika Serikat kini menjadi sorotan serius dalam eskalasi konflik di Timur Tengah. Militer Iran secara terbuka menyatakan akan menargetkan pusat ekonomi dan teknologi milik Amerika Serikat serta Israel, termasuk kantor operasional perusahaan raksasa seperti Google dan Microsoft di kawasan Teluk.
Ancaman Iran ini disampaikan langsung oleh juru bicara Komando Pusat Khatam al-Anbiya melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Rabu (11/3/2026). Dalam pernyataannya, militer Iran menegaskan bahwa pihaknya kini memiliki alasan untuk menyerang pusat ekonomi yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
“Musuh telah memberi kita alasan untuk dengan leluasa menargetkan pusat-pusat ekonomi dan perbankan yang terkait dengan AS dan Israel,” ujar juru bicara tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam sebuah bank di Teheran pada malam 10 Maret 2026. Serangan tersebut menewaskan sejumlah karyawan bank dan memicu kemarahan pemerintah Iran.
Sebagai respons, militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada warga sipil agar menjauhi area perbankan dalam radius satu kilometer. Langkah ini dilakukan untuk menghindari korban sipil jika serangan balasan terjadi.
Ketegangan semakin meningkat setelah kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), merilis daftar infrastruktur yang disebut sebagai target sah serangan Iran. Daftar tersebut mencakup kantor operasional sejumlah perusahaan teknologi global yang berada di Israel maupun wilayah Teluk.
Perusahaan yang disebut dalam daftar tersebut antara lain Google, Microsoft, Palantir Technologies, IBM, Nvidia, dan Oracle. Iran menilai perusahaan-perusahaan ini memiliki peran strategis karena teknologi mereka dianggap digunakan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Laporan Tasnim menyebut bahwa konflik yang berkembang tidak lagi sekadar pertempuran militer konvensional. Konflik kini mulai bergeser menjadi perang terhadap infrastruktur ekonomi dan teknologi.
“Seiring meluasnya cakupan konflik regional hingga mencakup perang infrastruktur, daftar target sah Iran juga akan meluas,” tulis laporan tersebut.
Ancaman ini tidak hanya berhenti pada pernyataan. Dalam sepekan terakhir, sejumlah fasilitas digital dilaporkan menjadi sasaran serangan drone Iran.
Pusat data Amazon Web Services (AWS) di Bahrain disebut menjadi salah satu target serangan. Selain itu, dua fasilitas AWS lainnya di Uni Emirat Arab juga dilaporkan terkena serangan drone.
Serangan tersebut memicu kebakaran besar di beberapa fasilitas pusat data. Gangguan layanan digital juga terjadi setelah operator sistem melakukan prosedur penutupan darurat atau emergency shutdown untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Media pemerintah Iran menyebut serangan terhadap pusat data ini bertujuan untuk membuka dugaan keterlibatan fasilitas digital dalam mendukung operasi intelijen dan militer pihak lawan.
Dampak konflik juga mulai dirasakan di area publik. Kantor media di Dubai melaporkan empat orang mengalami luka-luka setelah dua drone jatuh di dekat bandara kota tersebut. Hingga kini, tingkat kerusakan akibat insiden itu masih dalam proses penyelidikan.
Ketegangan di Timur Tengah sendiri telah meningkat tajam sejak serangan udara besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu memicu balasan keras dari Teheran.
Iran kemudian meluncurkan gelombang rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Arab serta wilayah Israel.
Konflik yang terus berlangsung ini telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga saat ini dilaporkan lebih dari 1.700 orang tewas, dengan mayoritas korban berada di pihak Iran.
Situasi ini menunjukkan perubahan pola perang di kawasan Timur Tengah. Jika sebelumnya konflik lebih banyak berupa pertempuran militer langsung, kini sasaran mulai meluas ke infrastruktur ekonomi dan teknologi.
Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi kawasan Teluk dan keamanan jaringan digital global yang sangat bergantung pada pusat data dan infrastruktur teknologi di wilayah tersebut.



