Deadline – Universitas Sharif yang di bom oleh AS memicu kecaman keras dari pemerintah Iran. Wakil Presiden Mohammad Reza Aref menuduh Amerika Serikat menggunakan bom “penghancur bunker” dalam serangan yang terjadi pada Senin pagi di ibu kota Teheran.
Pengeboman Universitas Sharif disebut sebagai serangan terhadap salah satu pusat pendidikan paling bergengsi di Iran. Dalam pernyataannya di media sosial, Aref menyebut tindakan itu sebagai simbol “kegilaan dan ketidaktahuan” dari Donald Trump. Ia menegaskan bom jenis tersebut dirancang untuk menghancurkan struktur hingga ke bawah tanah.
Aref menilai serangan itu tidak akan melemahkan kekuatan ilmiah Iran. Ia menyebut ilmu pengetahuan tidak bergantung pada bangunan fisik, tetapi pada tekad para akademisi dan elit pendidikan. Ia juga menegaskan tidak ada tindakan kekerasan yang mampu menghapus tradisi keilmuan masyarakat Iran.
Hingga Senin pagi, pihak Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan tersebut. Sementara itu, Universitas Sharif dikenal luas sebagai pusat riset unggulan di Iran dan sering dibandingkan dengan Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat.
Bom di Universitas Sharif terjadi di tengah gelombang serangan yang lebih luas. Pada malam yang sama, sejumlah wilayah di Teheran kembali dibombardir, termasuk bagian timur, selatan, dan barat kota. Area sekitar kampus dilaporkan mengalami kerusakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Serangan juga menyasar fasilitas gas di dekat kampus. Universitas Sharif menjadi kampus keempat yang terkena serangan dalam beberapa pekan terakhir. Target lain mencakup rumah sakit, sekolah, serta infrastruktur industri seperti minyak dan baja.
Di luar Teheran, serangan udara juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota, termasuk Karaj, Shiraz, Isfahan, dan Bushehr. Laporan menyebutkan kerusakan berat di berbagai lokasi.
Korban jiwa akibat serangan terbaru mencapai 34 orang. Rinciannya, 23 orang tewas di provinsi Teheran, termasuk enam anak-anak. Lima orang tewas di Qom, dan enam orang lainnya di Bandar-e Lengeh. Di kawasan Baharestan, dilaporkan 13 korban tewas, termasuk enam anak-anak.
Secara total, korban jiwa sejak operasi militer gabungan AS-Israel dimulai pada akhir Februari telah melampaui 2.000 orang. Otoritas Iran mencatat sekitar 81.000 lokasi sipil terdampak. Rinciannya meliputi 61.000 rumah, 19.000 bangunan komersial, 275 fasilitas kesehatan, dan hampir 500 sekolah.
Kecaman juga datang dari anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Yassamin Ansari. Ia mempertanyakan alasan pengeboman universitas di kota dengan populasi sekitar 10 juta orang. Ia menegaskan Universitas Sharif memiliki kontribusi besar dalam melahirkan insinyur yang berkiprah di industri teknologi global.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa serangan tersebut menghancurkan bagian dalam masjid kampus. Gambar yang dirilis menunjukkan kerusakan parah di area tersebut.



