Deadline – Festival Api Iran yang selama ribuan tahun menjadi simbol harapan dan kemenangan cahaya atas kegelapan kini berubah makna. Di tengah perang yang masih berlangsung, tradisi kuno Chaharshanbe Suri tahun ini justru diwarnai pesan politik keras kepada musuh Iran.
Pemerintah Iran mengajak masyarakat memanfaatkan festival tersebut untuk menunjukkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Media pemerintah bahkan secara terbuka menyerukan agar warga membuat patung Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, lalu membakarnya di ruang publik.
Seruan itu muncul saat perang memasuki minggu ketiga dan kota-kota di Iran berada dalam pengawasan keamanan yang sangat ketat.
Tradisi Ribuan Tahun yang Kini Sarat Pesan Politik
Chaharshanbe Suri merupakan tradisi Persia kuno yang selalu dirayakan pada malam terakhir sebelum Tahun Baru Persia atau Nowruz. Dalam tradisi ini, warga biasanya menyalakan api unggun dan melompati kobaran api sebagai simbol meninggalkan kesialan dan menyambut harapan baru.
Namun suasana tahun ini sangat berbeda.
Kantor jaksa umum di Teheran mengirim pesan singkat kepada warga yang melarang penggunaan petasan, bahan peledak, atau api besar dalam perayaan. Alasan yang disampaikan adalah potensi penyalahgunaan oleh pihak yang dianggap sebagai “mata-mata atau perusuh musuh”.
Di sisi lain, televisi pemerintah justru mendorong masyarakat menyalurkan kemarahan mereka melalui simbol.
Media negara menyerukan agar festival ini diubah menjadi “upacara membakar setan”, dengan membuat patung Trump dan Netanyahu dari kain atau kardus kemudian membakarnya di jalanan dan alun-alun kota.
Seruan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi budaya berusia ribuan tahun kini berubah menjadi panggung propaganda perang.
Kota Teheran Berubah Sunyi dan Dipenuhi Pos Pemeriksaan
Di balik seruan perayaan itu, suasana ibu kota Tehran justru terasa mencekam.
Aktivitas kota hanya berjalan sebagian. Banyak toko hanya buka beberapa jam pada siang hari, sementara malam hari dipenuhi patroli keamanan.
Pasukan paramiliter Basij yang berada di bawah komando Islamic Revolutionary Guard Corps berjaga di berbagai sudut kota. Pos pemeriksaan muncul di jalan utama, terowongan, bahkan di bawah jembatan.
Seorang warga Teheran yang meminta identitasnya dirahasiakan menggambarkan situasi yang ia lihat setiap malam.
Menurutnya, siapa pun yang keluar rumah hampir pasti harus melewati beberapa pos pemeriksaan dan diperiksa barang bawaannya.
“Kadang ada kendaraan berat dengan senapan mesin terpasang. Banyak petugas bersenjata dengan wajah tertutup, sebagian terlihat masih sangat muda,” ujarnya.
Kelompok pendukung pemerintah juga sering menggelar iring-iringan kendaraan pada malam hari. Mereka menyalakan lampu ponsel, membawa pengeras suara, dan meneriakkan slogan keagamaan serta seruan “Allahu Akbar” dan “Death to America”.
Ancaman Drone dan Ketegangan yang Terus Meningkat
Ketegangan tidak hanya terjadi di jalanan. Militer Iran terus menunjukkan kekuatan.
Pasukan Garda Revolusi mengumumkan telah menembakkan rudal balistik jarak jauh Sejjil untuk pertama kalinya selama perang ini. Rudal tersebut memiliki jangkauan lebih dari 2.000 kilometer.
Dalam pernyataannya, Garda Revolusi juga bersumpah akan terus mengejar dan membunuh Netanyahu sebagai bagian dari konflik yang semakin meluas di kawasan.
Sementara itu, militer Israel dilaporkan menggunakan drone pengintai dan serangan seperti Hermes dan Heron untuk memantau serta menyerang beberapa titik pemeriksaan penting di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah komandan Basij lokal.
Akibatnya, pasukan keamanan Iran kini sering berpindah lokasi atau membangun pos pemeriksaan di tempat yang lebih terlindung.
Internet Padam, Informasi Terputus
Situasi di Iran semakin terisolasi karena akses internet hampir sepenuhnya dimatikan sejak lebih dari dua minggu lalu, tepat setelah perang dimulai.
Sebagian kecil jaringan yang sebelumnya masih berfungsi untuk pengguna tertentu juga dilaporkan berhenti beroperasi pada Minggu sore tanpa penjelasan resmi.
Akibatnya, masyarakat Iran hanya mengandalkan media pemerintah atau siaran televisi satelit yang sering mengalami gangguan sinyal.
Pemerintah juga terus melakukan penangkapan terhadap warga yang dituduh mengirim video lokasi serangan atau pos keamanan kepada media luar negeri.
Ketakutan dan Harapan di Tengah Kobaran Api
Di tengah situasi penuh tekanan itu, festival Chaharshanbe Suri tetap digelar.
Namun api yang biasanya melambangkan harapan kini terasa berbeda. Bagi sebagian warga Iran, kobaran api tahun ini tidak hanya tentang meninggalkan kesialan, tetapi juga mencerminkan kemarahan, ketakutan, dan ketidakpastian masa depan.
Di jalanan yang dijaga ketat, di bawah langit yang sesekali diterangi rudal dan drone, tradisi kuno itu berubah menjadi simbol lain: sebuah bangsa yang sedang bertahan di tengah perang dan narasi politik yang saling bertabrakan.



