Deadline – Hamas menimbang pelucutan senjata menjadi titik krusial yang akan menentukan masa depan Jalur Gaza. Kelompok militan itu kini menghadapi tekanan besar untuk melepas persenjataannya sebagai syarat utama rekonstruksi wilayah yang hancur akibat perang panjang.
Keputusan Hamas dalam beberapa hari atau pekan ke depan akan berdampak langsung pada sekitar 2 juta warga Gaza. Selama hampir enam bulan sejak gencatan senjata berlaku, mereka hidup dalam ketidakpastian tanpa arah yang jelas.
Hamas menimbang pelucutan senjata bukan perkara sederhana. Piagam organisasi ini sejak awal menegaskan perlawanan bersenjata terhadap Israel. Arsenal seperti roket, rudal anti-tank, dan bahan peledak menjadi bagian inti identitas kelompok tersebut.
Karena itu, peluang Hamas untuk benar-benar melepas senjata masih belum pasti. Mereka juga menunjukkan ketidakpuasan terhadap proposal yang didukung Amerika Serikat. Situasi semakin rumit setelah konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menyita perhatian kawasan.
Gencatan Senjata Belum Tuntas
Gencatan senjata yang dimulai 10 Oktober bertujuan menghentikan lebih dari dua tahun perang sekaligus membuka jalan menuju rekonstruksi Gaza. Kesepakatan ini memang mengurangi intensitas pertempuran dan meningkatkan distribusi bantuan kemanusiaan.
Namun kondisi di lapangan belum sepenuhnya stabil. Serangan Israel masih terjadi dan menewaskan hampir 700 warga Palestina sejak gencatan berlaku. Israel juga masih menguasai lebih dari setengah wilayah Gaza dengan alasan merespons pelanggaran perjanjian.
Sejumlah poin penting dalam rencana damai Amerika Serikat belum berjalan. Ini termasuk pengerahan pasukan penjaga perdamaian PBB, pembentukan polisi Palestina terlatih asing, hingga pemerintahan teknokrat untuk mengelola Gaza.
Pelucutan Senjata Jadi Kunci Utama
Hamas menimbang pelucutan senjata menjadi syarat utama agar seluruh rencana tersebut bisa berjalan. Amerika Serikat dan Israel menegaskan bahwa semua infrastruktur militer Hamas, termasuk terowongan dan fasilitas produksi senjata, harus dihancurkan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak akan ada kemajuan tanpa langkah ini. Banyak negara donor juga menahan bantuan karena khawatir konflik akan kembali pecah.
Proposal terbaru yang dimediasi Turki, Qatar, dan Mesir mengusulkan pelucutan senjata total secara bertahap. Tahap awal akan menyasar senjata paling berbahaya seperti roket dan bahan peledak, lalu berlanjut ke senjata ringan.
Sebagai imbalannya, penarikan pasukan Israel akan dilakukan secara bertahap. Keamanan Gaza nantinya akan berada di bawah kendali penuh pemerintahan teknokrat Palestina.
Respons Hamas Picu Ketidakpastian
Hamas menimbang pelucutan senjata dengan sikap hati-hati. Sejumlah pejabat internal menyatakan menerima proposal secara prinsip, tetapi dengan catatan penting.
Mereka menuntut jaminan kuat bahwa Israel akan menghentikan serangan dan tidak melanjutkan perang setelah pelucutan senjata dilakukan. Tanpa jaminan tersebut, Hamas menilai proposal berisiko merugikan posisi mereka.
Respons resmi Hamas belum diumumkan. Ketidakjelasan ini memperpanjang ketidakpastian bagi warga Gaza yang sudah lama terdampak perang.
Warga Gaza Terjebak Tanpa Kepastian
Dampak perang selama dua tahun terakhir sangat besar. Sebanyak 90 persen populasi Gaza dilaporkan mengungsi. Ratusan ribu orang masih tinggal di tenda dengan ketergantungan tinggi pada bantuan kemanusiaan.
Jika negosiasi terus berlarut, rekonstruksi Gaza akan semakin tertunda. Risiko pecahnya kembali perang juga meningkat.
Hamas menimbang pelucutan senjata kini menjadi penentu tunggal. Keputusan ini bukan hanya soal strategi militer, tetapi menyangkut masa depan jutaan warga yang menunggu kepastian hidup.



