Deadline – Iran mengguncang Israel kembali menjadi sorotan dunia setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkap klaim keras mengenai dampak serangan rudal Iran terhadap wilayah Israel. Pernyataan itu disampaikan Araghchi melalui akun X miliknya pada Rabu (11/3/2026), ketika ia menanggapi kebijakan sensor ketat militer Israel terhadap media.
Menurut Araghchi, kebijakan sensor yang diterapkan pemerintah Israel bertujuan menutupi dampak besar serangan Iran. Ia menuding Benjamin Netanyahu, tidak ingin dunia internasional melihat kekuatan militer Iran yang disebutnya sedang “menghukum” Israel atas serangan sebelumnya.
Araghchi menyebut laporan dari tim Iran di lapangan menunjukkan kerusakan besar akibat serangan rudal. Ia juga mengklaim para pemimpin Israel berada dalam kondisi panik, sementara sistem pertahanan udara negara tersebut disebut mengalami kekacauan. Dalam pernyataannya, Araghchi bahkan menegaskan bahwa serangan tersebut baru permulaan dari respons militer Iran.
Pernyataan keras itu muncul setelah wawancara Araghchi dengan NBC News pada Ahad (8/3/2026). Dalam wawancara tersebut, ia menegaskan Iran tidak akan menerima permintaan gencatan senjata jika kembali diajukan oleh Amerika Serikat atau Israel. Menurutnya, situasi konflik saat ini sangat berbeda dibandingkan perang yang terjadi pada Juni 2025.
Araghchi mengingat kembali perang selama 12 hari pada Juni 2025 lalu. Saat itu Israel menyerang Iran, sementara Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, sempat menulis pesan “menyerah tanpa syarat” di media sosial. Namun menurut Araghchi, Iran tidak menyerah dan justru terus melawan.
Ia menegaskan bahwa setelah pertempuran berlangsung selama 12 hari, Israel akhirnya meminta gencatan senjata tanpa syarat. Menurut Araghchi, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer.
“Martabat kami tidak untuk dijual. Kami akan terus mempertahankan wilayah, rakyat, dan kehormatan kami selama diperlukan,” kata Araghchi dalam wawancara tersebut.
Ketika ditanya tentang syarat penghentian perang, Araghchi menegaskan Iran belum berada pada tahap pembicaraan gencatan senjata. Ia menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa menerima gencatan senjata tidak selalu membawa perdamaian jangka panjang.
Sementara itu, laporan dari jurnalis BBC, Kasra Naji, menggambarkan kondisi tegang di Tel Aviv pada Selasa (10/3/2026). Ia melaporkan bahwa sirene peringatan serangan udara beberapa kali terdengar di kota tersebut karena serangan rudal yang masih berlanjut.
Menurut laporan tersebut, rudal tidak hanya berasal dari Iran tetapi juga dari kelompok bersenjata Hizbullah yang berada di Lebanon. Karena jarak yang relatif dekat antara Lebanon dan Israel, warga sering kali hanya memiliki waktu singkat untuk mencari perlindungan setelah sirene berbunyi.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan dua orang pekerja konstruksi yang sedang bekerja di sebuah gedung. Selain korban jiwa, sedikitnya 76 orang dilaporkan mengalami luka dalam 24 jam terakhir akibat serangan tersebut.
Situasi keamanan di Tel Aviv juga berdampak pada aktivitas masyarakat. Banyak toko dilaporkan tutup, kantor-kantor bisnis menghentikan operasional sementara, dan jalanan kota terlihat jauh lebih sepi dari biasanya.
Menurut laporan lapangan, pemerintah Israel kini menghadapi tekanan besar dari situasi keamanan yang terus memburuk. Bahkan rencana pembukaan sekolah yang dijadwalkan berlangsung pekan depan dikabarkan harus ditunda karena meningkatnya ancaman serangan.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketegangan militer yang terus meningkat membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam kondisi tidak stabil, sementara dunia internasional terus memantau kemungkinan eskalasi yang lebih besar.



