Deadline -Israel Diprediksi Kolaps apabila serangan balasan Iran terus berlangsung hingga satu bulan ke depan. Prediksi ini muncul dari pengamatan jurnalis dan pengamat politik kelahiran Israel, Alon Mizrahi, yang menilai situasi sosial dan militer di negara tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan serius.
Melalui unggahan di media sosial X pada Sabtu (14/3/2026), Alon Mizrahi menyebut bahwa rangkaian serangan balasan dari Iran terhadap agresi militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat telah memunculkan kondisi yang tidak biasa di dalam negeri Israel. Ia menggambarkan adanya kegawatan yang berpotensi mengguncang stabilitas pemerintahan dan kekuatan militer negara tersebut.
Menurut Mizrahi, apabila pola serangan rudal dan drone Iran terus berlanjut dengan intensitas yang sama, maka dalam waktu sekitar satu bulan Israel bisa mengalami keruntuhan secara bertahap. Ia menilai tekanan militer yang terus meningkat akan berdampak langsung pada sistem pertahanan dan psikologis masyarakat.
Militer Israel Disebut Mulai Melemah
Dalam analisisnya, Mizrahi menilai kemampuan militer Israel mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan sejak dua pekan perang berlangsung. Ia menduga bahwa serangan balasan Iran telah memberikan dampak signifikan terhadap kekuatan udara Israel.
Menurutnya, serangan tersebut kemungkinan besar telah melemahkan angkatan udara Israel secara serius. Kondisi ini membuat pemerintahan yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu dinilai kesulitan memberikan respons pertahanan yang efektif.
Ia menyebut bahwa hingga saat ini belum terlihat strategi yang mampu sepenuhnya menghentikan serangan balasan dari Iran.
Ketakutan Massal Mulai Terlihat di Israel
Selain melemahnya kekuatan militer, Mizrahi juga menyoroti perubahan psikologis yang terjadi di tengah masyarakat Israel. Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, warga disebut mulai mengalami ketakutan dan tekanan mental akibat ancaman serangan yang terus berulang.
Suasana duka juga muncul karena meningkatnya jumlah korban dan kerusakan infrastruktur di berbagai kota. Menurut pengamat tersebut, kondisi psikologis masyarakat kini lebih mudah dipenuhi rasa takut dan kesedihan dibanding sebelumnya.
Ia juga mencatat munculnya ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Sejumlah warga disebut mulai mempertanyakan kemampuan kepemimpinan nasional dalam menghadapi konflik yang semakin meluas.
Spekulasi Kondisi Netanyahu
Dalam pernyataannya, Mizrahi juga menyinggung munculnya berbagai rumor terkait kondisi pemimpin Israel. Ia menyebut adanya spekulasi mengenai kesehatan maupun kemampuan strategis Netanyahu yang belum dapat dikonfirmasi secara resmi.
Menurutnya, berbagai kejanggalan dalam pengambilan keputusan militer dan perubahan suasana politik di Israel membuat sebagian masyarakat merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam pemerintahan.
Perang Memasuki Pekan Kedua
Konflik terbuka antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran kini telah memasuki pekan kedua sejak dimulai pada 28 Februari 2026. Hingga pertengahan Maret, belum ada tanda-tanda pembicaraan gencatan senjata antara pihak-pihak yang terlibat.
Serangan udara dari Israel dan Amerika Serikat masih terus dilakukan terhadap sejumlah fasilitas strategis di wilayah Iran. Sementara itu, militer Iran tetap melakukan perlawanan menggunakan drone tempur serta rudal jarak jauh yang diarahkan ke wilayah Israel.
Serangan Meluas ke Kawasan Timur Tengah
Konflik ini juga berdampak ke sejumlah negara di kawasan Teluk. Rudal dan drone Iran dilaporkan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di beberapa negara seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, serta Irak.
Di sisi lain, kelompok bersenjata Hizbullah dari Lebanon selatan juga dilaporkan ikut melancarkan serangan ke wilayah Israel untuk membantu Iran. Israel merespons dengan serangan udara ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk kawasan permukiman di sekitar Beirut.
Laporan sementara menyebut lebih dari seribu warga Lebanon tewas akibat serangan tersebut.
Korban Perang Terus Bertambah
Dari berbagai laporan yang muncul di Iran, jumlah korban akibat perang dilaporkan mencapai sekitar 1.500 orang. Di antara korban tersebut terdapat sekitar 175 anak sekolah yang dilaporkan tewas akibat serangan udara.
Sementara itu, angka korban di Israel maupun personel militer Amerika Serikat di kawasan belum dapat dipastikan secara jelas. Informasi mengenai jumlah korban disebut sangat terbatas karena adanya penyensoran militer.
Namun laporan yang dikutip dari Anadolu Agency pada Jumat (13/3/2026) menyebut data dari Kementerian Kesehatan Israel menunjukkan jumlah warga yang terluka dan dalam kondisi kritis mendekati 3.000 orang.
Kerusakan Kota di Israel Mulai Terungkap
Dampak kerusakan di wilayah Israel juga sulit diverifikasi secara pasti karena pembatasan informasi. Meski demikian, sejumlah video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan bangunan di beberapa kota akibat serangan rudal dan drone.
Beberapa rekaman memperlihatkan bangunan hancur serta kebakaran di kawasan perkotaan. Bocoran dokumentasi tersebut memicu berbagai spekulasi di media sosial mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.
Dalam beberapa hari terakhir bahkan beredar rumor mengenai kemungkinan tewasnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akibat serangan tersebut. Namun hingga kini tidak ada konfirmasi resmi mengenai kabar tersebut.
Situasi konflik yang terus meningkat membuat banyak pihak khawatir perang dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.



