Deadline – Nelayan Gaza kini harus mempertaruhkan nyawa mereka setiap kali melaut. Di tengah blokade Israel dan kehancuran akibat perang, industri perikanan di Gaza hampir lumpuh total. Para nelayan yang tersisa hanya bisa berharap membawa pulang satu atau dua ekor ikan setelah mempertaruhkan hidup di laut yang diawasi ketat militer Israel.
Di pelabuhan Khan Younis, Jalur Gaza, dua nelayan Palestina terlihat mengayuh perahu kecil yang sudah rusak sekitar 200 meter dari pantai. Sementara itu, di tepi laut, Dawood Sehwail, nelayan berusia 72 tahun, berdiri memperbaiki jaring yang robek sambil menatap ombak.
Bagi Sehwail, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut adalah bagian dari hidupnya sejak kecil.
“Perasaan ini tidak pernah berubah. Kita datang ke laut untuk melihat keajaiban apa yang masih tersisa,” kata Sehwail.
Namun kenyataan yang dihadapi para nelayan Gaza saat ini jauh dari kata indah.
Blokade Israel Hancurkan Industri Perikanan Gaza
Sebelum perang besar pecah pada Oktober 2023, nelayan Gaza sebenarnya sudah hidup dalam berbagai pembatasan. Israel terus memperkecil zona tangkap ikan yang boleh dimasuki nelayan Palestina, meskipun perjanjian sejak Oslo 1993 seharusnya memberi ruang lebih luas di laut.
Setiap konflik militer membuat pembatasan semakin ketat.
“Kami selalu dibelenggu. Kadang pembatasan sedikit longgar, tapi setelah serangan Israel, kami selalu dipaksa mundur dari laut,” jelas Sehwail.
Sejak blokade Israel diberlakukan pada 2007 yang mengontrol wilayah darat, laut, dan udara Gaza, laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi alat kontrol terhadap masyarakat Palestina.
Sehwail sendiri pernah memiliki usaha distribusi batu. Namun bisnis itu bangkrut setelah blokade semakin ketat. Ia akhirnya kembali menjadi nelayan, profesi yang ia pelajari sejak kecil.
Perang Gaza Hancurkan Kapal dan Pelabuhan
Ketika perang besar dimulai pada Oktober 2023, situasi nelayan berubah drastis hanya dalam hitungan hari.
Serangan udara Israel menghancurkan pelabuhan Gaza. Fasilitas perikanan di sepanjang pantai dari utara hingga selatan dibombardir. Banyak kapal dibakar atau ditenggelamkan.
“Nelayan Rafah punya enam kapal pukat besar. Semuanya dibom dan dibakar,” kata Sehwail.
Ia juga kehilangan perahu kecil dan jaringnya ketika pasukan Israel menghancurkannya beberapa hari sebelum ia dan keluarganya terpaksa mengungsi dari Rafah pada Mei 2024.
Di pelabuhan Khan Younis sekarang, banyak kapal yang hancur berubah fungsi menjadi tiang penyangga tenda pengungsi. Rangka kapal yang berkarat tertanam di pasir, sementara anak-anak pengungsi bermain di sekitarnya.
Meski begitu, nelayan tetap mencari cara untuk bertahan.
“Kami sekarang hanya mencoba untuk tidak mati,” ujar Sehwail.
Beberapa nelayan meminjam peralatan seadanya. Ada juga yang menggunakan bagian kulkas bekas untuk dijadikan papan terapung karena tidak memiliki kapal.
Melaut di Bawah Ancaman Tembakan
Ancaman terbesar bukan hanya kehancuran alat tangkap, tetapi juga risiko ditembak.
Menurut Serikat Nelayan Gaza, sedikitnya 238 nelayan Palestina telah tewas sejak Oktober 2023, baik di laut maupun di darat. Angka ini menjadi bagian dari lebih dari 72.000 warga Palestina yang terbunuh dalam konflik Gaza.
Sebelum perang, sektor perikanan Gaza melibatkan lebih dari 5.000 nelayan dan menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 50.000 anggota keluarga.
Namun sekarang laut hampir sepenuhnya tertutup.
Ketua Serikat Nelayan Gaza, Zakaria Baker, mengatakan banyak nelayan tidak berani pergi lebih jauh dari 800 meter dari pantai karena khawatir ditembak kapal perang Israel.
Di kejauhan dari pantai Khan Younis, kapal angkatan laut Israel selalu terlihat berpatroli.
“Mereka selalu ada di sana. Kami tidak punya izin resmi untuk melaut. Kami masuk dengan risiko sendiri,” kata Sehwail.
Ia menggambarkan bagaimana kapal Israel sering mengejar nelayan secara tiba-tiba. Perahu ditembak, ditenggelamkan, atau nelayan ditangkap.
“Semua tergantung suasana hati tentara. Jika mereka ingin, mereka bisa menembak kami,” ujarnya.
Produksi Ikan Gaza Anjlok Drastis
Sebelum perang, sektor perikanan Gaza memainkan peran penting dalam ketahanan pangan masyarakat.
Namun data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan kondisi saat ini sangat memprihatinkan.
Pada akhir 2024, produksi perikanan Gaza hanya tersisa kurang dari 7,3 persen dari kapasitas sebelum perang. Sekitar 72 persen armada kapal nelayan rusak atau hancur.
Selain itu, akses penangkapan ikan kini terbatas kurang dari 1 mil laut dari pantai. Kondisi ini membuat jumlah tangkapan sangat sedikit dan jenis ikan yang didapat pun terbatas.
“Dulu semakin jauh ke laut, semakin banyak jenis ikan. Sekarang di perairan dangkal hanya ada ikan kecil,” jelas Sehwail.
Sebagian besar yang tertangkap adalah sarden kecil yang sebenarnya belum layak ditangkap. Namun kondisi kelaparan memaksa nelayan mengambil apa pun yang tersedia.
Ikan Jadi Makanan Mewah di Gaza
Blokade dan krisis pangan membuat ikan segar kini menjadi barang mewah bagi warga Gaza.
Bahkan setelah adanya gencatan senjata, sebagian ikan yang dijual di pasar Gaza adalah ikan beku impor. Harganya lebih mahal dibanding ikan segar lokal sebelum perang.
Dengan kondisi ekonomi yang runtuh total, banyak keluarga tidak mampu membeli ikan tersebut.
Zakaria Baker menegaskan pemulihan sektor perikanan tidak cukup hanya dengan gencatan senjata.
Israel masih membatasi masuknya peralatan dan bahan yang diperlukan untuk memperbaiki kapal dan fasilitas pelabuhan.
“Nelayan membutuhkan kondisi aman dan stabil untuk kembali bekerja tanpa takut ditembak,” katanya.
Nelayan Gaza Hanya Ingin Hidup Layak
Bagi Dawood Sehwail, harapan sebenarnya sangat sederhana.
Ia hanya ingin bisa kembali melaut tanpa rasa takut dan memberi makan keluarganya dengan layak.
“Nelayan adalah orang sederhana dan miskin,” katanya pelan.
“Kami hanya ingin hidup dengan martabat dan memberi makan keluarga kami. Dari utara sampai selatan Gaza, semua nelayan membutuhkan dukungan agar bisa kembali melaut seperti yang seharusnya.”



