Deadline – Tingkat kepuasan publik terhadap Donald Trump menjadi sorotan utama setelah survei terbaru menunjukkan penurunan tajam dukungan terhadap Presiden Amerika Serikat. Dalam waktu kurang dari dua tahun sejak kembali menjabat, hubungan “bulan madu” antara Trump dan publik Amerika terlihat berakhir lebih cepat dari perkiraan.
Tingkat kepuasan terhadap Donald Trump anjlok ke angka 33 persen berdasarkan survei gabungan CNN dan University of Massachusetts Amherst pada periode Maret–April 2026. Angka ini menjadi rekor terendah sepanjang masa jabatan keduanya dan menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang serius di kalangan masyarakat.
Pendukung Donald Trump mulai menyesal menjadi fakta baru yang mencuat dari data survei tersebut. Jika pada April 2025 sebanyak 74 persen pemilih Trump merasa sangat yakin dengan pilihan mereka, kini angka itu turun menjadi 62 persen. Meskipun hanya 5 persen yang menyatakan akan memilih kandidat lain jika pemilu diulang, sekitar 16 hingga 20 persen mengaku mulai ragu dan memiliki perasaan campur aduk terhadap kinerja Trump.
Hidup makin mahal menjadi keluhan utama masyarakat. Sebanyak 71 persen warga Amerika menilai Donald Trump gagal mengendalikan kenaikan harga barang. Kondisi ini dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat berbelanja kebutuhan pokok.
Harga bensin mahal juga memicu kekecewaan, bahkan dari basis pendukung setianya sendiri. Sebanyak 45 persen pemilih Trump mengeluhkan lonjakan harga bahan bakar yang dinilai semakin membebani ekonomi rumah tangga.
Kebijakan tarif impor gagal menjadi sorotan berikutnya. Sebanyak 64 persen responden menilai kebijakan tersebut tidak efektif karena justru menyebabkan harga barang semakin tinggi. Harapan bahwa tarif impor dapat melindungi ekonomi domestik tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Konflik Iran picu kemarahan publik. Keputusan Donald Trump melakukan serangan militer terhadap Iran dianggap bertentangan dengan janji kampanye untuk mengakhiri “perang tanpa akhir”. Meskipun Trump menyatakan tidak akan mengirim pasukan darat, sebanyak 41 persen masyarakat tidak mempercayai pernyataan tersebut.
Dukungan basis pemilih runtuh menjadi ancaman serius bagi Trump. Kelompok pekerja kelas menengah atau “kerah biru” yang sebelumnya menjadi kekuatan utama kini mengalami penurunan kepuasan dari 63 persen menjadi 49 persen. Selain itu, dukungan dari pemilih pria dan warga Afrika-Amerika juga turun hingga 20 poin dalam satu tahun terakhir.
Pemilih moderat menjauh karena menilai kebijakan Trump semakin ekstrem dan tidak memberikan solusi nyata terhadap kesulitan ekonomi. Kondisi ini memperlemah posisi politik Trump menjelang pemilu mendatang.
Isu transparansi memperburuk keadaan. Sebanyak 59 persen warga Amerika percaya pemerintah masih menyembunyikan informasi terkait kasus Jeffrey Epstein. Persepsi negatif terhadap integritas pemerintahan pun semakin menguat.
Ancaman bagi Partai Republik kini semakin nyata. Dengan Pemilu Midterm 2026 yang semakin dekat, tren penurunan dukungan ini berpotensi menjadi pukulan besar bagi Partai Republik di Kongres.
Pengamat politik dari University of Massachusetts Amherst, Tatishe Nteta, menilai Trump saat ini berada di titik terjauh dari publik Amerika. Kemampuannya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat akan menjadi faktor penentu bagi kelangsungan kekuasaannya ke depan.
Jika kondisi ekonomi tidak segera membaik dan konflik luar negeri terus berlanjut, gelombang kekecewaan publik diperkirakan akan semakin besar dan sulit dibendung.



