Deadline – ROKET IRAN DAN HIZBULLAH mengguncang wilayah Galilea di Israel utara setelah tiga gelombang serangan terjadi hampir bersamaan pada Jumat dini hari. Serangan roket tersebut menyebabkan puluhan orang terluka serta ratusan rumah rusak, memicu ketegangan serius antara pemerintah daerah dan militer Israel.
Media Israel melaporkan jumlah korban luka akibat roket yang jatuh di Galilea meningkat menjadi 80 orang. Para korban merupakan pemukim Yahudi Israel yang mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda, mulai dari ringan hingga serius. Layanan ambulans Israel mengonfirmasi para korban langsung dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
SERANGAN ROKET GALILEA juga menimbulkan kerusakan besar pada permukiman warga. Laporan media setempat menyebut sekitar 300 rumah mengalami kerusakan setelah proyektil menghantam kawasan pemukiman. Banyak bangunan mengalami pecah kaca, atap runtuh, hingga dinding yang retak akibat ledakan.
Serangan tersebut terjadi dalam tiga gelombang roket berturut-turut yang menghantam wilayah Israel utara dalam kurun waktu sekitar satu jam. Intensitas serangan yang cepat dan beruntun ini menimbulkan kepanikan di kalangan warga yang harus berlindung di bunker perlindungan sipil.
Selain Galilea, sebuah bangunan di Kiryat Tivon, dekat kota Haifa, juga dilaporkan rusak setelah terkena roket. Meski bangunan mengalami kerusakan, tidak ada laporan korban luka dalam insiden tersebut.
Sementara itu, sistem pertahanan udara Israel berhasil mencegat sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran yang menargetkan wilayah Eilat dan Lembah Arava. Intersepsi tersebut mencegah potensi korban jiwa di wilayah selatan Israel.
Namun bobolnya sistem pertahanan di wilayah utara Israel memicu pertikaian internal antara pejabat daerah dan militer. Channel 12 Israel mengungkap adanya pertengkaran verbal sengit antara kepala otoritas lokal di Israel utara dan komandan Divisi Galilea militer Israel, Yuval Gaz.
Para pemimpin daerah menuduh militer Israel menyesatkan mereka mengenai durasi sirene peringatan yang hanya berbunyi sekitar sepuluh menit. Mereka juga menilai militer meremehkan potensi eskalasi dari kelompok Hezbollah di wilayah perbatasan.
Pejabat lokal bahkan menyebut serangan ini meruntuhkan narasi yang selama setahun terakhir disampaikan bahwa Hizbullah tidak lagi memiliki kekuatan militer signifikan di dekat perbatasan Israel.
Di sisi lain, pejabat Komando Utara militer Israel menegaskan bahwa pertempuran yang terjadi saat ini masih bersifat defensif. Menurut mereka, medan utama konflik tetap berada pada konfrontasi dengan Iran, bukan semata di wilayah Lebanon.
KORBAN PERANG TERUS BERTAMBAH
Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa jumlah korban luka sejak dimulainya perang dengan Iran telah mencapai 2.745 orang. Dari jumlah tersebut, 85 orang masih dirawat di rumah sakit.
Rinciannya menunjukkan 11 orang dalam kondisi kritis, 10 orang dalam kondisi sedang, dan 64 orang mengalami luka ringan, sementara satu korban masih menjalani evaluasi medis.
Dalam 24 jam terakhir saja, rumah sakit menerima 179 korban luka, termasuk 4 korban dengan kondisi sedang, 157 korban luka ringan, serta 18 orang yang mengalami kepanikan akibat serangan roket.
Sementara itu, data dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel di Tel Aviv University menyebut sedikitnya 14 warga Israel tewas sejak pecahnya perang yang terkait dengan serangan terhadap Iran. Namun angka tersebut masih diperkirakan belum sepenuhnya akurat karena adanya sensor militer terhadap informasi operasi perang.
KONFLIK REGIONAL MEMANAS
Eskalasi ini merupakan bagian dari perang regional yang meletus pada 28 Februari, ketika Israel bersama United States melancarkan serangan terhadap Iran. Sebagai balasan, Teheran menembakkan rudal dan drone ke berbagai target di Israel.
Ketegangan meningkat pada 2 Maret, saat Israel memperluas operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon. Serangan udara dilancarkan ke pinggiran selatan Beirut, serta sejumlah wilayah di selatan dan timur Lebanon.
Sehari kemudian, militer Israel memulai serangan darat terbatas ke Lebanon selatan, menandai eskalasi serius dalam konflik lintas perbatasan.
TRUMP KLAIM IRAN HAMPIR MENYERAH
Menariknya, meningkatnya serangan terhadap Israel terjadi ketika mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan kontroversial mengenai kondisi Iran.
Dalam pertemuan daring dengan para pemimpin G7, Trump mengklaim Iran berada di ambang kekalahan. Menurut laporan Axios yang mengutip tiga pejabat G7, Trump menyatakan Iran hampir “habis” dan mendekati titik penyerahan diri.
Namun fakta di lapangan menunjukkan konflik masih berlangsung sengit. Serangan roket ke wilayah Galilea menjadi bukti bahwa kemampuan militer Iran dan sekutunya masih mampu memberikan tekanan besar terhadap Israel.




Israel dan Amerika Serikat udah keterlaluan, harus dibalas