Deadline – Kematian Ali Larijani menjadi pukulan besar bagi Iran. Tokoh kunci keamanan nasional ini dilaporkan tewas dalam serangan Israel di tengah perang yang sedang berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pengumuman resmi disampaikan media pemerintah Iran pada Selasa malam. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut Ali Larijani tewas dalam serangan udara semalam. Ia meninggal di usia 67 tahun.
Tidak hanya Ali Larijani, pejabat tinggi militer Iran, Gholamreza Soleimani, juga dilaporkan tewas dalam serangan terpisah. Kematian dua tokoh ini menandai eskalasi serius dalam konflik.
Tokoh Kunci Pasca Tewasnya Pemimpin Tertinggi
Ali Larijani dikenal sebagai figur penting setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada awal perang 28 Februari lalu. Ia menjadi salah satu otak utama dalam merespons krisis terbesar Iran sejak Revolusi 1979.
Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Larijani berada di pusat pengambilan keputusan strategis. Ia juga terlibat dalam dewan transisi yang mengelola negara pasca kematian Khamenei.
Kemunculan terakhirnya di publik terjadi saat parade Hari Quds di Teheran. Saat itu, ia menunjukkan sikap tegas di tengah tekanan perang.
Dari Filsuf ke Strategi Keamanan

Berbeda dari banyak elite Iran, Ali Larijani memiliki latar belakang akademik kuat. Ia meraih gelar matematika dan ilmu komputer dari Universitas Teknologi Sharif, lalu melanjutkan studi filsafat Barat di Universitas Teheran.
Ia bahkan menulis tentang pemikiran Immanuel Kant, menunjukkan sisi intelektual yang jarang dimiliki pejabat keamanan.
Namun karier politiknya jauh lebih dominan. Ia pernah menjadi Menteri Kebudayaan, kepala penyiaran nasional, hingga Ketua Parlemen Iran selama tiga periode (2008–2020).
“Dinasti Politik” Paling Berpengaruh di Iran
Lahir di Najaf, Irak, pada 3 Juni 1958, Larijani berasal dari keluarga elite yang sangat berpengaruh. Keluarganya bahkan dijuluki “Kennedys of Iran”.
Ayahnya adalah ulama terkemuka, sementara saudara-saudaranya menduduki posisi penting di lembaga yudikatif dan politik. Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan tokoh revolusi Iran melalui pernikahannya.
Peran Besar dalam Diplomasi Nuklir
Larijani pernah menjadi negosiator utama nuklir Iran. Ia berperan penting dalam kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA.
Meski dikenal pragmatis dan terbuka pada diplomasi, sikapnya berubah drastis setelah perang meletus. Ia mengadopsi retorika keras terhadap AS dan Israel.
Ia bahkan menuduh Presiden AS Donald Trump terjebak “perangkap Israel”.
Dari Negosiasi ke Ancaman Terbuka
Sebelum perang, Ali Larijani masih terlibat dalam pembicaraan tidak langsung dengan AS melalui mediasi Oman. Ia sempat menyebut jalur diplomasi sebagai “pilihan rasional”.
Namun setelah serangan militer, sikapnya berubah total. Ia menolak negosiasi dan mengancam akan menyerang pasukan AS jika masuk ke Iran.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan Iran tidak akan menyerang negara regional, tetapi siap menargetkan basis militer AS.
Sosok Penghubung Strategis yang Sulit Digantikan
Pengamat menyebut Ali Larijani sebagai jembatan antara militer, aparat keamanan, dan elite politik Iran. Perannya sangat krusial dalam menjaga stabilitas strategi negara saat perang.
Kehilangannya dinilai akan berdampak besar pada pengambilan keputusan Iran ke depan. Terutama dalam mengelola konflik sekaligus peluang deeskalasi.
Dampak Besar bagi Iran
Kematian Ali Larijani menjadi kehilangan besar setelah serangkaian tokoh penting Iran gugur. Meski sistem pemerintahan masih berjalan, mencari pengganti dengan kapasitas serupa dinilai tidak mudah.
Situasi ini berpotensi memperumit arah kebijakan Iran di tengah konflik yang semakin memanas.



