voice of jakarta | Pemerintah Kota Jakarta Timur meresmikan Bank Sampah Kemilau di RW 06, Kelurahan Pulo Gadung, Kecamatan Pulo Gadung, sebagai langkah memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan mendorong budaya pemilahan sampah sejak dari rumah.
Fasilitas yang dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Aneka Tambang (Antam) Tbk Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia (UBPP Logam Mulia) tersebut diharapkan menjadi model percontohan pengelolaan sampah modern di wilayah Jakarta Timur.
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, mengatakan kehadiran Bank Sampah Kemilau mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya.
Program ini, kata dia, sejalan dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber yang menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
“Saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada PT Antam yang telah berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Jakarta Timur dalam pengelolaan dan pemilahan sampah,” ujar Munjirin, Selasa (7/7).
Ia berharap inisiatif serupa dapat diperluas ke berbagai wilayah lain di Jakarta Timur sehingga budaya memilah sampah dari sumber dapat diterapkan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Sementara itu, General Manager PT Antam Tbk UBPP Logam Mulia, Ismail, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, rangkaian peringatan HUT ke-58 PT Antam menjadi momentum bagi perusahaan untuk terus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Melalui peresmian Bank Sampah Kemilau dan penyaluran tempat sampah pilah, perusahaan berharap masyarakat semakin terbiasa melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.
“Sinergisitas antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus mendukung target pengurangan sampah di Jakarta,” kata Ismail.
Salah satu inovasi yang diterapkan dalam Bank Sampah Kemilau adalah penggunaan tempat sampah pilah organik berkapasitas 120 liter yang dilengkapi kode QR untuk mendukung pencatatan digital melalui sistem Bank Sampah Pintar (BSP).
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan, pemantauan, dan pencatatan volume sampah secara lebih modern dan akurat.
Nama “Kemilau” sendiri dipilih sebagai simbol harapan bahwa sampah yang dikelola masyarakat dapat memiliki nilai ekonomi. Hasil pengelolaan sampah nantinya dapat dikonversi menjadi tabungan dalam bentuk emas atau logam mulia.
“Kami ingin Bank Sampah Kemilau menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan warga dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ketua RW 06 Kelurahan Pulo Gadung, Ahmad Taufik, menyampaikan apresiasi atas dukungan PT Antam dan Pemerintah Kota Jakarta Timur dalam menghadirkan fasilitas tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan CSR PT Antam sehingga Bank Sampah Kemilau dapat hadir di lingkungan kami untuk optimalisasi pengelolaan sampah,” katanya.
Peresmian Bank Sampah Kemilau menambah daftar inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas di Jakarta yang mengedepankan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.



