Yogyakarta, VOICE OF JAKARTA | 11 Agustus 2026 Perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta diwarnai berbagai pertunjukan seni dan budaya. Salah satu segmen yang menarik perhatian dalam Malam Anugerah Kebudayaan “Satkara Ratri” adalah ketoprak humor yang dikonsep oleh Dr. Rizal Djibran.
Malam puncak perayaan setengah abad Ramayana Purawisata tersebut berlangsung di Gazebo Garden Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta, Senin (10/8/2026).
Mengusung tema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya”, acara tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Ramayana Ballet Purawisata sebagai salah satu pertunjukan budaya yang dikenal di Yogyakarta.
Di tengah rangkaian acara, ketoprak humor yang melibatkan Dr. Rizal Djibran, Paramitha Rusady dan sejumlah aktor teater lainnya tampil sebagai segmen hiburan.
Konsep Padat dalam Waktu Terbatas
Ketoprak humor tersebut memiliki durasi relatif singkat. Persiapannya juga dilakukan dalam waktu yang terbatas.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghilangkan unsur utama pertunjukan. Alur dibuat padat, interaksi antarpemain dibangun dengan cepat, sementara unsur humor digunakan untuk mencairkan suasana acara.

Rizal Djibran tidak hanya tampil sebagai pemain, tetapi juga terlibat dalam penyusunan konsep pertunjukan.
Pendekatan tersebut membuat segmen ketoprak humor ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan dramaturgi acara, bukan sekadar pertunjukan tambahan.
Dalam sebuah acara dengan rangkaian pertunjukan yang beragam, setiap segmen dituntut memiliki fungsi yang jelas. Ketoprak humor tersebut mengambil peran sebagai intermezzo yang memberikan suasana berbeda sekaligus menjaga keterlibatan penonton.
Berduet dengan Paramitha Rusady
Dalam pertunjukan tersebut, Rizal Djibran beradu peran dengan Paramitha Rusady, aktris yang telah lama berkecimpung di dunia seni peran.
Pengalaman Paramitha di panggung dan layar turut memberikan dinamika dalam interaksi keduanya. Ekspresi, spontanitas dan permainan dialog menjadi bagian penting dalam membangun suasana komedi.
Kolaborasi tersebut membuat segmen yang relatif singkat tetap memiliki ritme dan interaksi yang kuat.
Bagi sebuah pertunjukan komedi, durasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan. Ketepatan dialog, timing, karakter pemain dan respons penonton menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Rizal dan Gagasan Ekosistem Seni Pertunjukan
Keterlibatan Rizal Djibran dalam pertunjukan tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitasnya di bidang seni dan perfilman.
Rizal dikenal sebagai pendiri Lembaga Penelitian Pengembangan Perfilman (LP3), pendiri Yayasan Budaya Indonesia Emas (YBIE), salah satu penggagas dan perancang Blue Print Ekosistem Perfilman, serta pendiri dan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI).
Pengalaman tersebut turut membentuk pendekatan Rizal dalam melihat produksi seni pertunjukan. Sebuah pertunjukan tidak hanya dipandang dari sisi pemain, tetapi juga dari bagaimana konsep, pemain, waktu, ruang dan kebutuhan acara dapat disatukan.
Dalam kondisi persiapan yang terbatas, kemampuan menentukan prioritas menjadi penting. Struktur adegan harus dipadatkan, karakter pemain harus dimaksimalkan dan momentum komedi harus ditempatkan pada bagian yang tepat.
Ketika Durasi Bukan Satu-satunya Ukuran
Perdebatan mengenai durasi sering muncul dalam produksi seni pertunjukan. Pertunjukan yang panjang tidak otomatis menghasilkan dampak artistik yang lebih besar, begitu pula pertunjukan singkat tidak selalu berarti minim persiapan atau konsep.
Ukuran keberhasilan sebuah segmen dapat dilihat dari kemampuannya menjalankan fungsi dalam keseluruhan acara.
Dalam konteks perayaan 50 tahun Ramayana Purawisata, ketoprak humor tersebut hadir untuk memberikan warna berbeda di antara rangkaian acara budaya dan penghargaan.
Konsep yang padat membuat pertunjukan dapat menyesuaikan diri dengan waktu yang tersedia tanpa kehilangan unsur hiburan.
Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa dalam produksi pertunjukan, keterbatasan waktu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi seorang konseptor dan pemain.
Panggung Menjadi Ujian Terakhir
Pada akhirnya, kualitas sebuah pertunjukan diuji ketika konsep tersebut berhadapan langsung dengan penonton.
Lampu panggung, dialog, permainan aktor, tempo komedi dan respons penonton menjadi bagian dari proses evaluasi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh perencanaan di belakang panggung.
Ketoprak humor dalam perayaan 50 tahun Ramayana Purawisata menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah segmen dengan durasi singkat dapat tetap memiliki fungsi dalam sebuah acara yang lebih besar.
Bagi Rizal Djibran, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pekerjaan seni tidak selalu tentang seberapa panjang seseorang berada di atas panggung.
Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan menjadi pertunjukan yang mampu berkomunikasi dengan penonton dan menyatu dengan kebutuhan acara.
Dalam dunia pertunjukan, pada akhirnya karya di atas panggunglah yang menjadi titik temu antara konsep, pemain dan penonton.



