Deadline – MBG kebal kritik karena menyentuh sisi paling dasar kemanusiaan: memberi makan anak-anak. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai janji yang sulit ditolak, bahkan nyaris tak tersentuh perdebatan di ruang publik.
Namun di balik daya tariknya, muncul pertanyaan mendasar: apakah program sebesar ini benar-benar realistis dijalankan?
MBG menargetkan lebih dari 50 juta penerima manfaat pada tahap awal. Anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp 70–100 triliun per tahun, dan bisa melonjak hingga lebih dari Rp 400 triliun jika diterapkan penuh secara nasional.
Angka sebesar ini bukan sekadar ambisi. Ia membawa konsekuensi fiskal yang nyata dan tidak bisa diabaikan.
Realitas Fiskal: Ambisi Besar, Ruang Terbatas
APBN 2025 menunjukkan ruang fiskal yang sempit. Belanja negara mencapai sekitar Rp 3.621 triliun, dengan defisit mendekati 3 persen PDB.
Dalam kondisi seperti ini, setiap kebijakan baru harus diuji secara ketat.
Ekonom dunia давно mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam mengelola anggaran publik. Milton Friedman menekankan bahwa penggunaan uang orang lain untuk orang lain sering kali mengurangi kehati-hatian. Sementara Joseph Stiglitz mengingatkan bahwa intervensi negara harus dirancang matang agar tidak menimbulkan masalah baru.
Hal yang sama ditegaskan Esther Duflo: program sosial yang berhasil bukan yang terbesar, tetapi yang paling tepat sasaran.
MBG hadir di tengah tekanan fiskal, bukan saat kondisi longgar. Ini membuat risikonya semakin besar.
Risiko Program Raksasa: Beban atau Solusi?
Menambahkan program sebesar MBG dalam kondisi fiskal yang terbatas ibarat menambah muatan pada kapal yang sudah penuh. Masih bisa berjalan, tetapi jauh lebih rentan terhadap guncangan.
Tidak semua kebijakan lahir dari kebutuhan teknis. Sebagian juga dipengaruhi pertimbangan politik.
Ekonom Indonesia, Faisal Basri, pernah mengingatkan bahwa kebijakan publik harus berlandaskan efisiensi dan keberlanjutan, bukan sekadar popularitas.
Dalam konteks ini, MBG perlu diuji secara jujur:
apakah ini solusi terbaik, atau sekadar yang paling menarik secara politik?
Belajar dari India dan Brasil
India: Skala Besar, Bertahap
India menjalankan Mid-Day Meal Scheme, salah satu program makan sekolah terbesar di dunia.
Program ini menjangkau lebih dari 100 juta anak setiap hari. Namun keberhasilannya dibangun secara bertahap selama puluhan tahun, dengan fokus pada kelompok paling membutuhkan.
Meski besar, program ini tetap menghadapi tantangan seperti kualitas makanan dan distribusi.
Brasil: Terintegrasi dengan Ekonomi Lokal
Brasil menjalankan Programa Nacional de Alimentação Escolar (PNAE) dengan pendekatan berbeda.
Program ini tidak hanya memberi makan siswa, tetapi juga mendorong ekonomi lokal dengan melibatkan petani sebagai pemasok bahan makanan.
Keberhasilannya didukung oleh tata kelola kuat dan kapasitas fiskal yang memadai.
Masalah Utama: Stunting Bukan Sekadar Soal Makan
Indonesia masih menghadapi stunting serius, sekitar satu dari lima anak mengalami gangguan pertumbuhan.
Namun, persoalan ini tidak sesederhana kekurangan makanan.
Faktor utama stunting meliputi:
- Sanitasi buruk
- Akses air bersih terbatas
- Edukasi gizi rendah
- Layanan kesehatan belum merata
Memberi makan tanpa memperbaiki faktor tersebut hanya menyentuh gejala, bukan akar masalah.
MBG berisiko menjadi solusi sederhana untuk masalah kompleks.
Risiko Jangka Panjang: Ketergantungan dan Beban Fiskal
Dalam prinsip kebijakan, mencegah kerusakan harus didahulukan daripada menarik manfaat jangka pendek.
Jika tidak dirancang dengan matang, MBG berpotensi:
- Menambah tekanan fiskal jangka panjang
- Menciptakan ketergantungan
- Tidak menghasilkan perubahan struktural
Negara terlihat bertindak, tetapi masalah utama tetap ada.
Solusi: Perlu Koreksi, Bukan Dipaksakan
Keberanian sejati dalam kebijakan publik adalah kemampuan mengoreksi.
MBG tidak harus dihentikan. Namun perlu dirancang ulang dengan pendekatan lebih realistis:
- Fokus pada daerah dengan stunting tertinggi
- Berbasis data, bukan asumsi
- Terintegrasi dengan program kesehatan dan sanitasi
- Dilakukan bertahap, bukan sekaligus nasional
Dengan cara ini, program tetap berjalan tanpa membebani negara secara berlebihan.
Ambisi Harus Diimbangi Ketepatan
MBG adalah ujian kebijakan. Ia hadir di saat fiskal sedang tertekan, bukan longgar.
Defisit mendekati 3 persen PDB adalah sinyal jelas bahwa ruang anggaran terbatas.
Pada akhirnya, kebijakan terbaik bukan yang paling besar, tetapi yang paling tepat.
Jika tidak, MBG berisiko menjadi simbol mahal—bukan solusi nyata.



