WASHINGTON DC —voice of Jakarta | Rencana kesepakatan damai dengan Iran yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kritik tajam dari kalangan Partai Demokrat. Anggota Kongres AS Seth Moulton menyebut rancangan perjanjian tersebut sebagai “dokumen penyerahan diri” yang dinilai tidak memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat.
Pernyataan Moulton disampaikan menyusul pengumuman Trump pada Sabtu yang menyatakan bahwa kerangka kerja perdamaian dengan Iran akan segera ditandatangani. Menurut Trump, kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung persoalan program nuklir Iran. Ia menyebut bahwa pada waktu yang tepat, Amerika Serikat akan mengambil dan menghancurkan apa yang ia gambarkan sebagai “debu nuklir”, yang diduga merujuk pada uranium yang telah diperkaya.
Laporan Media Sebut Ada Pencabutan Sanksi
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut mencakup pencabutan sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran dan pengakhiran blokade yang diberlakukan Washington.
Laporan itu juga mengindikasikan bahwa Selat Hormuz akan kembali beroperasi tanpa sistem pungutan tertentu, sebuah langkah yang dipandang penting bagi stabilitas pasar energi internasional.
Namun demikian, pejabat Iran membantah bahwa penandatanganan kesepakatan akan dilakukan dalam waktu dekat. Teheran menegaskan bahwa pembicaraan mengenai program nuklir masih akan berlangsung pada tahap berikutnya.
Seth Moulton: AS Tidak Mendapat Keuntungan Strategis
Berbicara dalam program MS Now, Moulton—yang juga merupakan anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS—menilai kesepakatan tersebut justru menjadi kerugian bersih bagi Washington.
“Ini kesepakatan yang mengerikan. Pada dasarnya ini adalah dokumen penyerahan diri dari Donald Trump kepada pemimpin tertinggi Iran,” kata Moulton.
Ia mempertanyakan manfaat strategis dari konflik yang telah menelan biaya besar bagi Amerika Serikat.
“Lebih dari 100 miliar dolar uang pembayar pajak telah diinvestasikan dalam perang ini, 14 warga Amerika tewas, dan kita mendapatkan kesepakatan yang membuka kembali selat yang sebelumnya sudah terbuka. Bagaimana itu bisa disebut kemenangan?” ujarnya.
Meski mengakui bahwa mengakhiri perang merupakan langkah yang tepat, Moulton menilai hasil akhirnya tidak sejalan dengan tujuan strategis Amerika.
Kekhawatiran atas Program Nuklir Iran
Perdebatan mengenai kesepakatan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap kemampuan nuklir Iran.
Sejumlah laporan media menyebut bahwa meskipun menghadapi tekanan dan serangan militer dari AS dan Israel, kemampuan pertahanan Iran dinilai tetap signifikan. Beberapa analis bahkan memperkirakan Teheran berpotensi mempercepat pengembangan kemampuan nuklir dalam beberapa bulan mendatang.
Iran sendiri secara konsisten membantah tuduhan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk pengembangan senjata atom.
Senator Adam Schiff Ikut Menyuarakan Kritik
Kritik terhadap rencana kesepakatan itu juga datang dari Senator California Adam Schiff. Ia memperingatkan bahwa negosiasi yang terburu-buru berisiko menghasilkan kompromi yang merugikan kepentingan nasional AS.
Schiff menilai kesepakatan yang diumumkan terlalu dini dapat berubah menjadi langkah politik untuk menjaga citra pemerintahan.
“Itu akan menjadi kerugian strategis yang mengerikan bagi negara,” katanya.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai waktu penandatanganan kesepakatan maupun rincian final dari perundingan antara Washington dan Teheran.



