Deadline – Serangan besar-besaran Iran dan Hizbullah dilaporkan berpotensi menghantam Israel dalam waktu dekat. Pemerintah Israel kini berada dalam kondisi siaga tinggi setelah muncul laporan bahwa Teheran dan sekutunya di Lebanon bersiap meluncurkan serangan besar-besaran.
Informasi tersebut memicu kekhawatiran luas di Israel. Aparat keamanan memperingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi situasi yang disebut sebagai “hari-hari sulit” akibat meningkatnya ancaman rudal dari Iran dan serangan dari kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan segera mengumpulkan para pejabat tinggi politik dan keamanan untuk membahas perkembangan terbaru. Rapat darurat itu dilakukan setelah muncul berbagai laporan intelijen dan rumor yang menyebar di media sosial mengenai potensi serangan besar yang bisa terjadi dalam waktu dekat.
Menurut seorang pejabat Israel yang berbicara kepada media Amerika, pemerintah sedang memantau situasi dengan sangat serius. Israel disebut tengah menyiapkan berbagai langkah pertahanan guna menghadapi kemungkinan serangan simultan dari beberapa arah.
Peringatan juga datang dari militer Israel. Kepala Komando Front Dalam Negeri Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bahwa masyarakat harus siap menghadapi periode yang penuh tekanan.
Mayjen Shai Klapper menegaskan bahwa ancaman serangan rudal dari Iran dan serangan milisi Hizbullah dari Lebanon membuat Israel berada dalam kondisi kewaspadaan tinggi. Ia menyebut hari-hari mendatang sebagai masa yang penuh ujian bagi negara tersebut.
“Hari-hari penuh cobaan yang sulit ada di depan kita,” kata Klapper dalam pernyataan pers dari wilayah utara Israel.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mempertahankan pembatasan aktivitas nasional. Kebijakan tersebut mencakup larangan kegiatan pendidikan serta pembatasan pertemuan publik. Pertemuan masyarakat hanya diperbolehkan maksimal 50 orang dan harus berada di lokasi yang memiliki akses cepat menuju tempat perlindungan.
Selain itu, tempat kerja masih diperbolehkan beroperasi dengan syarat yang sama, yakni memiliki fasilitas perlindungan yang dapat dijangkau dalam waktu singkat jika terjadi serangan.
Menurut Komando Front Dalam Negeri, kebijakan ini dibuat untuk menjaga keseimbangan antara keamanan warga negara dan kelangsungan aktivitas nasional, termasuk operasional ekonomi dan sistem pendidikan.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa aturan tersebut akan tetap berlaku setidaknya hingga Sabtu pukul 20.00 waktu setempat. Setelah itu, militer akan kembali melakukan penilaian situasi sebelum memutuskan apakah pembatasan perlu diperpanjang atau dilonggarkan.
Situasi yang berkembang ini membuat Israel berada dalam kondisi siaga maksimal. Pihak militer terus memantau perkembangan ancaman dari Iran dan Hizbullah sambil menyiapkan langkah pertahanan tambahan apabila serangan benar-benar terjadi.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun kembali meningkat. Ancaman serangan ini menambah kekhawatiran bahwa konflik yang lebih luas dapat terjadi jika serangan balasan atau eskalasi militer terus meningkat.



