Terbongkar Ormat Technologies Perusahaan Milik Israel, Terlibat dalam Proyek Geotermal di Indonesia Sejak 2017

Deadline – Ormat Technologies kembali jadi sorotan setelah keterlibatannya dalam proyek panas bumi di Indonesia dibongkar oleh Bhima Yudhistira. Ia menegaskan perusahaan tersebut tetap berstatus asal Israel, meski terdaftar di bursa Amerika Serikat.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi publik bertema investasi global dan solidaritas terhadap Palestina pada Minggu, 29 Maret 2026.

Status Ormat Technologies: Tetap Perusahaan Israel

Bhima menjelaskan bahwa Ormat Technologies berdiri sejak 1965 di Yavne, Israel. Perusahaan ini juga tercatat di Bursa Efek Tel Aviv.

Ia menolak anggapan bahwa status perusahaan berubah setelah melantai di New York Stock Exchange sejak 2004.

Menurutnya, pencatatan saham di luar negeri tidak mengubah identitas perusahaan. Ia memberi contoh perusahaan Indonesia yang tetap berstatus sama meski tercatat di bursa asing.

Ormat dikenal sebagai pemain besar energi terbarukan dengan kapasitas pembangkit sekitar 1,7 GW di berbagai negara.

Proyek Geotermal di Indonesia

Ormat mulai aktif di Indonesia sejak 2017 melalui anak usaha PT Ormat Geothermal Indonesia.

Beberapa proyek utama yang terlibat antara lain:

  • PLTP Sarulla (330 MW) di Sumatera Utara, beroperasi sejak 2017
  • PLTP Ijen (35 MW) di Jawa Timur, beroperasi komersial pada 2025
  • Proyek baru di Maluku Utara setelah menang lelang WKP Telaga Ranu pada 2026

Selain itu, Ormat menjalin kerja sama akademik dengan Institut Teknologi Bandung sejak 2022 untuk pengembangan sumber daya manusia di sektor panas bumi.

Proyek Ormat juga tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, dan Jawa Barat. Sebagian masih dalam tahap eksplorasi.

Kritik: Geotermal Dinilai Energi Ekstraktif

Bhima mengkritik narasi yang menyebut panas bumi sebagai energi bersih dan terbarukan.

BACA JUGA  Israel Disebut “Kutukan Kemanusiaan”, Menhan Pakistan Murka Serangan Lebanon Memanas

Ia menyebut geotermal masuk dalam rezim pertambangan karena prosesnya mengambil sumber daya dari dalam bumi.

Menurutnya, secara substansi geotermal tetap bersifat ekstraktif. Ia bahkan menilai arah pengembangan teknologi tersebut keliru.

Data: Ekspor Israel Justru Naik

Temuan lain yang disorot adalah kenaikan ekspor Israel ke Indonesia.

Bhima menyebut pada 2024 terjadi peningkatan sebesar 10,4 persen. Data ini dinilai bertolak belakang dengan kampanye boikot produk Israel yang semakin besar.

Ia melihat adanya paradoks antara gerakan solidaritas dan realitas perdagangan.

Penolakan Masyarakat Muncul

Penolakan terhadap proyek Ormat juga terjadi di lapangan.

Pada Oktober 2025, masyarakat adat di Wayoli, Halmahera Barat, menyatakan penolakan terhadap proyek panas bumi.

Alasan utama adalah proses konsultasi yang dinilai tidak inklusif. Bhima menegaskan bahwa prinsip Free Prior and Informed Consent harus dipenuhi dalam setiap investasi.

Dorongan Evaluasi hingga Pembatalan

CELIOS mendorong langkah advokasi yang lebih luas, termasuk tekanan kepada investor global.

Karena Ormat terdaftar di bursa Amerika, investor dinilai bisa mengajukan resolusi terkait risiko reputasi dan geopolitik.

Di dalam negeri, Bhima mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi hingga membatalkan investasi Ormat.

Ia menilai momentum masih terbuka, terutama untuk proyek yang masih tahap eksplorasi.

BDS dan Tekanan Global

Gerakan BDS Movement menjadi bagian dari tekanan internasional.

Gerakan ini dimulai pada 2005 oleh aktivis Palestina dengan pendekatan non-kekerasan. Fokusnya pada boikot produk, penarikan investasi, dan sanksi terhadap Israel.

Bhima menilai isu ini bisa menyatukan advokasi pro-Palestina, gerakan lingkungan, dan kebijakan ekonomi dalam satu kekuatan besar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER