Deadline – Napi video call sambil hisap sabu mendadak menjadi perhatian publik setelah sebuah rekaman berdurasi 1 menit 49 detik beredar luas di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang narapidana diduga sedang mengonsumsi narkoba jenis sabu sambil melakukan panggilan video dari dalam penjara.
Dalam rekaman itu, pria tersebut tampak santai. Ia menggenggam alat isap sabu dan menghembuskan asap putih tebal yang memenuhi ruangan. Sedotan masih menempel di bibirnya saat berkomunikasi lewat video call. Aksi itu menunjukkan dugaan pelanggaran serius terhadap aturan di dalam lembaga pemasyarakatan.
Video viral napi hisap sabu sambil video call ini langsung memicu kemarahan masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan pengawasan di dalam lapas, terutama terkait masuknya barang terlarang seperti narkotika dan penggunaan perangkat komunikasi.
Pihak Lapas Kelas II A Jambi merespons cepat. Kepala Lapas, Syahroni Ali, menyatakan bahwa informasi dalam video masih belum jelas. Ia menyebut lokasi kejadian belum dapat dipastikan.
“Informasinya masih sumir. Narasi hanya menyebut Lapas Jambi, padahal ada beberapa lapas di wilayah ini,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (27/3/2026).
Meski begitu, pihak lapas kini melakukan penyelidikan internal. Syahroni menegaskan akan menjatuhkan sanksi berat jika terbukti kejadian tersebut terjadi di Lapas Kelas II A Jambi.
“Kalau ini benar, pasti ada hukuman berat untuk napi yang terlibat,” tegasnya.
Ia juga mengaku terkejut karena pihaknya baru saja melakukan razia internal sehari sebelumnya. Hal ini menambah tanda tanya soal bagaimana narkoba dan alat komunikasi bisa lolos ke dalam lapas.
Sorotan juga datang dari Ombudsman. Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jambi, Saiful Roswandi, meminta penanganan serius dan transparan.
Menurut Saiful, pengawasan di dalam lapas tidak boleh lengah, terutama terkait peredaran narkotika yang kerap melibatkan narapidana.
“Tindakan tegas harus diambil terhadap pengedar narkoba di dalam lapas,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Ia menekankan pentingnya langkah nyata. Jika kasus seperti ini terus berulang tanpa sanksi jelas, kepercayaan publik terhadap institusi pemasyarakatan bisa menurun.
“Tanpa tindakan tegas, publik bisa menduga ada permainan,” kata Saiful.
Kasus napi sabu dalam lapas ini kembali membuka persoalan lama. Pengawasan di balik jeruji besi dipertanyakan. Publik kini menunggu hasil penyelidikan dan tindakan konkret dari pihak berwenang.



