Havana —voice of Jakarta | Jurnalis internasional José Manzaneda menilai tuduhan pemerintah United States terhadap mantan Presiden Kuba Raúl Castro merupakan bagian dari pola tekanan politik dan yudisial terhadap Cuba yang disebut mirip dengan pendekatan Washington terhadap Venezuela.
Dalam wawancara dengan RT pada Kamis (21/5/2026), Manzaneda menyebut langkah hukum Amerika Serikat tersebut sebagai bagian dari “operasi propaganda besar-besaran” yang bertujuan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Kuba.
“Mari kita ingat bahwa Nicolás Maduro didakwa atas pelanggaran perdagangan narkoba dan beberapa bulan kemudian terjadi intervensi militer serta penculikan untuk membawanya ke Amerika Serikat,” ujar Manzaneda.
Ia mengaitkan tuduhan terhadap Raúl Castro dengan insiden penembakan dua pesawat sipil pada 1996 yang menyebabkan empat orang tewas, termasuk tiga warga negara AS.
Menurut Manzaneda, Kuba sejak lama berpendapat bahwa kedua pesawat tersebut berulang kali memasuki wilayah udara negara itu secara ilegal meski telah diberikan peringatan.
“Kasus ini menyangkut pesawat kecil yang melanggar wilayah udara Kuba hingga 25 kali,” katanya.
Manzaneda memperingatkan bahwa tuduhan hukum tersebut dapat menjadi bagian dari tekanan psikologis dan politik yang lebih luas terhadap Havana, bahkan berpotensi menjadi pendahuluan bagi tindakan agresif yang lebih besar.
Ia juga menuding Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebagai salah satu tokoh utama di balik strategi tekanan ekonomi terhadap Kuba.
Menurutnya, kebijakan Washington diarahkan untuk memperburuk kondisi ekonomi Kuba demi mendorong perubahan rezim politik di negara Karibia tersebut.
“Strateginya adalah mengeksploitasi kelaparan dan keputusasaan rakyat Kuba,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah Kuba menolak keras dakwaan yang diumumkan United States Department of Justice terhadap Raúl Castro dan lima pejabat lainnya terkait insiden 1996 tersebut.
Havana menyebut tuduhan itu sebagai manuver hukum yang “licik” dan tidak memiliki dasar hukum maupun moral.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernández de Cossío menegaskan negaranya akan memberikan perlawanan terhadap setiap bentuk tekanan atau tindakan agresif terhadap Kuba.
“Setiap upaya menggunakan alasan ini untuk bertindak melawan Kuba akan disambut perlawanan sengit dari rakyat Kuba,” katanya.
Pemerintah Kuba juga menilai langkah Washington merupakan bagian dari peningkatan eskalasi tekanan politik yang dilakukan Gedung Putih sepanjang 2026.
Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba kembali meningkat di tengah dinamika geopolitik kawasan Amerika Latin, termasuk persaingan pengaruh politik dan ekonomi di kawasan tersebut.



