LONDON — voice of Jakarta | Pemerintah Inggris mengumumkan kesepakatan strategis senilai 210 juta poundsterling atau sekitar Rp4,6 triliun untuk memasok uranium yang diperkaya kepada perusahaan energi nuklir nasional Ukraina, Energoatom. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi Ukraina di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia.
Kesepakatan tersebut didukung oleh lembaga pembiayaan ekspor pemerintah Inggris, UK Export Finance, dan akan memungkinkan perusahaan pengayaan uranium asal Inggris, Urenco, memasok bahan bakar nuklir bagi pembangkit listrik Ukraina selama dua tahun ke depan.
Perjanjian ini mendapat persetujuan dalam pertemuan antara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Downing Street pekan lalu.
Ketahanan Energi Menjadi Prioritas
Pemerintah Inggris menyatakan kerja sama ini bertujuan memperkuat ketahanan energi Ukraina sekaligus memastikan pembangkit listrik tenaga nuklir tetap beroperasi di tengah tekanan perang.
“Inggris akan terus memberikan dukungan kepada Ukraina selama diperlukan,” kata Perdana Menteri Keir Starmer dalam pernyataan resminya.
Bagi Ukraina, sektor energi merupakan infrastruktur vital yang menopang aktivitas ekonomi, layanan publik, dan kebutuhan masyarakat sipil selama konflik berlangsung.
Energoatom saat ini mengoperasikan sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir yang menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas energi Ukraina berulang kali menjadi sasaran serangan dan gangguan akibat perang.
Peran Nuklir dalam Sistem Energi Ukraina
Energi nuklir memiliki posisi strategis dalam sistem ketenagalistrikan Ukraina. Sebelum konflik meningkat, pembangkit listrik tenaga nuklir menyumbang porsi signifikan terhadap kebutuhan energi nasional.
Dengan adanya pasokan uranium dari Inggris, Kyiv berharap dapat mengurangi risiko gangguan operasional sekaligus memperkuat kemandirian energi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Para pengamat menilai kerja sama ini juga mencerminkan upaya negara-negara Barat untuk mengurangi ketergantungan Ukraina terhadap rantai pasokan energi yang sebelumnya terhubung dengan Rusia.
Tantangan Transparansi dan Tata Kelola
Meski demikian, sektor energi Ukraina tidak lepas dari sorotan terkait tata kelola dan transparansi.
Sejumlah laporan sebelumnya menyinggung dugaan kasus korupsi yang melibatkan sektor energi, termasuk proyek-proyek yang berkaitan dengan Energoatom. Lembaga antikorupsi Ukraina telah melakukan berbagai penyelidikan terkait penggunaan dana dan pengelolaan infrastruktur energi negara tersebut.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa kesepakatan terbaru dengan Inggris berkaitan dengan penyelidikan tersebut.
Keamanan Nuklir Tetap Menjadi Kekhawatiran Global
Selain isu energi, keamanan fasilitas nuklir tetap menjadi perhatian komunitas internasional.
Rusia dan Ukraina selama ini saling melontarkan tuduhan terkait insiden di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporozhye, fasilitas nuklir terbesar di Eropa yang kini berada di wilayah yang dikuasai Rusia.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berulang kali menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat membahayakan keselamatan fasilitas nuklir maupun warga sipil di sekitarnya.
Para analis menilai bahwa stabilitas energi Ukraina dan keamanan nuklir Eropa akan tetap menjadi isu strategis global selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Kesepakatan antara London dan Kyiv ini menegaskan komitmen berkelanjutan negara-negara Barat dalam mendukung Ukraina, tidak hanya di bidang pertahanan, tetapi juga dalam menjaga keberlangsungan infrastruktur energi yang menjadi fondasi stabilitas nasional.



