Voice of Jakarta | Banyaknya organisasi pekerja tidak selalu mencerminkan kuatnya gerakan buruh. Kekuatan serikat pekerja justru ditentukan oleh kemampuan membangun kesadaran, mengorganisasi pekerja, memperjuangkan hak, serta menyatukan agenda perjuangan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (F-SPPI), Dr. Rizal Djibran, dalam diskusi “Menggagas Format Gerakan Serikat Pekerja ke Depan” yang digelar GEKANAS di Jakarta.
Menurut Rizal, konsolidasi gerakan serikat pekerja tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak forum atau membentuk struktur organisasi baru. Konsolidasi harus dibangun dari basis pekerja dan berorientasi pada persoalan nyata yang mereka hadapi.
Ia menilai fragmentasi gerakan buruh membutuhkan pendekatan yang mengedepankan demokrasi internal, etika organisasi, independensi, serta kesepakatan mengenai agenda perjuangan bersama.
“Konsolidasi bukan penyeragaman organisasi, melainkan penyatuan kekuatan di atas kepentingan bersama,” kata Rizal.
Tantangan Pekerja Perfilman
Menurut Rizal, persoalan pengorganisasian menjadi semakin kompleks di sektor perfilman. Industri ini memiliki karakter kerja berbasis proyek, melibatkan berbagai profesi, serta memiliki hubungan kerja yang dinamis.
Kondisi tersebut membuat strategi pengorganisasian pekerja perfilman tidak dapat sepenuhnya menggunakan pola serikat pekerja konvensional.
Serikat pekerja perlu memahami karakter industri sekaligus membangun pendekatan yang mampu menjangkau pekerja di berbagai bidang dan tahapan produksi.
Perubahan teknologi juga ikut mengubah dunia kerja perfilman. Digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) menuntut pekerja maupun organisasi serikat pekerja untuk terus meningkatkan kemampuan.
Pendidikan dan Kaderisasi
F-SPPI, kata Rizal, menempatkan pendidikan dan kaderisasi sebagai salah satu instrumen utama untuk memperkuat basis organisasi.
Kader serikat pekerja tidak cukup hanya dipersiapkan untuk mengisi posisi kepengurusan. Mereka juga perlu memahami hukum ketenagakerjaan, memiliki kemampuan advokasi dan kepemimpinan, mampu berkomunikasi, menguasai teknologi, serta memahami perubahan hubungan kerja.
Rizal juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas bagi jajaran pimpinan serikat pekerja.
Menurutnya, pemimpin organisasi yang tidak terus belajar akan menghadapi risiko tertinggal dari perubahan dunia kerja dan semakin sulit menjawab kebutuhan anggota.
Karena itu, pendidikan organisasi harus ditempatkan sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar kegiatan tambahan.
Empat Pilar Gerakan Pekerja Perfilman
Untuk membangun gerakan pekerja yang lebih kuat, F-SPPI mendorong empat pilar utama, yakni demokrasi internal, pendidikan dan kaderisasi, solidaritas lintas organisasi, serta konsolidasi agenda perjuangan.
Keempat pilar tersebut, menurut Rizal, harus dibangun dari tingkat basis dan kembali pada kebutuhan pekerja.
Dengan pendekatan itu, keberadaan organisasi tidak berhenti pada struktur formal, tetapi mampu menghasilkan kekuatan kolektif untuk memperjuangkan kepentingan pekerja.
“Gerakan serikat pekerja yang kuat bukan sekadar tentang besarnya organisasi, tetapi tentang kemampuan membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, menjaga demokrasi, dan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja,” ujar Rizal.



