voice of jakarta | Dunia perfilman Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Sutradara dan penulis skenario senior Imam Tantowi tutup usia pada Jumat, 21 Agustus 2026, dalam usia 80 tahun.
Kabar duka tersebut disampaikan Humas Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Evry Joe. Imam Tantowi disebut mengembuskan napas terakhir pada Jumat petang dan jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka kawasan Karawaci, Tangerang, Banten.
Kepergian Imam Tantowi menjadi kehilangan besar bagi industri film nasional. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai sineas yang tidak hanya bekerja di belakang kamera sebagai sutradara, tetapi juga aktif sebagai penulis skenario dan penata artistik.
Lahir di Tegal pada 13 Agustus 1946, Imam Tantowi mengawali perjalanan seninya melalui dunia sandiwara pada 1960-an. Ia kemudian merambah industri film dan menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari pembuat poster, dekorator, penata artistik hingga asisten sutradara.
Kariernya sebagai sutradara layar lebar mulai menonjol sejak Pasukan Berani Mati pada 1982. Setelah itu, namanya semakin dikenal melalui sejumlah film laga, kolosal dan cerita sejarah.
Salah satu karya yang paling melekat dengan nama Imam Tantowi adalah Soerabaia 45, film yang mengangkat peristiwa heroik Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Film yang dirilis pada 1990 itu menggambarkan perjuangan rakyat dalam menghadapi pasukan Sekutu dan menghidupkan kembali sejumlah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Karya tersebut membawa Imam Tantowi meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 1991. Penghargaan itu menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam perjalanan kariernya sebagai sutradara.
Namun kiprahnya tidak berhenti pada film sejarah. Imam Tantowi juga dikenal melalui karya-karya seperti Saur Sepuh, Tujuh Manusia Harimau, Si Badung, Fatahillah, serta sejumlah film dan sinetron lain yang pernah menghiasi layar Indonesia.
Imam Tantowi merupakan bagian dari generasi sineas yang turut membentuk wajah perfilman Indonesia pada dekade 1980-an dan 1990-an.
Ia dikenal memiliki kekuatan dalam menggarap film dengan skala produksi besar, terutama cerita laga, kolosal dan sejarah. Di dunia sinetron, namanya juga tercatat melalui karya seperti Madu, Racun & Anak Singkong, Jejak Sang Guru, serta Suami-Suami Takut Istri.
Kemampuannya sebagai penulis juga terus digunakan dalam perkembangan perfilman Indonesia hingga era yang lebih modern.
Imam Tantowi tercatat terlibat sebagai penulis dalam film Ketika Cinta Bertasbih, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, hingga Pengabdi Setan.
Penghargaan juga datang dari berbagai bidang. Selain Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik melalui Soerabaia 45, ia meraih Piala Citra untuk Cerita Asli untuk Film melalui Si Badung pada Festival Film Indonesia 1989.
Kepergian Imam Tantowi menutup perjalanan panjang seorang pekerja seni yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk perfilman Indonesia.
Lebih dari sekadar daftar film dan penghargaan, perjalanan Imam Tantowi menunjukkan bagaimana seorang sineas dapat tumbuh dari panggung sandiwara, bekerja di berbagai bidang teknis perfilman, kemudian berdiri sebagai sutradara dan penulis yang menghasilkan karya-karya yang dikenang.
Kabar kepergiannya sekaligus menjadi pengingat bahwa industri film Indonesia dibangun oleh banyak generasi pekerja kreatif yang bekerja jauh sebelum era digital dan platform streaming berkembang seperti sekarang.
Bagi dunia perfilman Indonesia, Imam Tantowi telah pergi. Namun karya dan jejak kreativitasnya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang sinema nasional.
Selamat jalan, Imam Tantowi.



