Dr. Rizal Djibran Ajak Lulusan IPWIJA Ubah Gelar Menjadi Pengabdian Nyata

Voice of Jakarta |  Wisuda ke-46 Universitas IPWIJA menjadi momentum bagi para lulusan untuk tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik. Dalam Sidang Terbuka Senat yang digelar di Jakarta, Rabu (30/9/2026), Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI), Dr. Rizal Djibran, mengajak para sarjana menjadikan ilmu sebagai kekuatan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Rizal hadir menyampaikan orasi motivasi di hadapan pimpinan universitas, jajaran dewan senat, para wisudawan serta wali mahasiswa.Dalam orasi bertajuk “Dari Gelar Menuju Guna: Ilmu, Budaya, dan Pengabdian untuk Nusantara”, Rizal menyoroti cara pandang terhadap keberhasilan seorang sarjana.

Menurut dia, gelar akademik tidak semestinya berhenti sebagai simbol prestise atau legitimasi administratif. Pendidikan tinggi, kata Rizal, memiliki tanggung jawab lebih besar, yakni menghadirkan perubahan dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

“Dunia luar pada akhirnya tidak semata-mata menanyakan apa gelar Anda atau dari kampus mana Anda berasal. Pertanyaan mendasar yang akan diajukan masyarakat adalah apa guna dan solusi nyata yang dapat dihadirkan dari ilmu tersebut,” tutur Rizal dalam orasinya.

Rizal mengatakan wisuda seharusnya dipandang bukan sebagai garis akhir perjalanan intelektual, melainkan awal dari tanggung jawab baru.

Menurutnya, semakin tinggi pendidikan yang diperoleh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.

Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan yang memberikan dampak sosial.

Pandangan tersebut, menurut Rizal, menjadi penting di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat.

Dalam kesempatan tersebut, Rizal juga mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat orientasi pendidikan agar tidak semata-mata menghasilkan lulusan yang mencari pekerjaan.

BACA JUGA  Kim Sejeong Jadi Wajah Baru REJURAN, Kampanye Global Resmi Dimulai

Kampus, menurut dia, juga perlu melahirkan para inisiator yang mampu menciptakan peluang kerja, mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta menghadirkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Lulusan perguruan tinggi harus mampu melihat persoalan di sekelilingnya dan mengubah ilmu yang dimiliki menjadi solusi,” menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam orasi tersebut.

Bagi Rizal, keberadaan sarjana di tengah masyarakat seharusnya memberikan nilai tambah, bukan justru menciptakan jarak dengan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

“Urip Iku Urup” sebagai Etika Pengabdian

Rizal kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan kearifan lokal Jawa.

Ia mengangkat prinsip “Urip iku urup”, yang dimaknai sebagai kehidupan yang memberikan manfaat dan memancarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Ia juga menyampaikan adagium:

“Dadi sarjana, ojo mung golek jeneng, nanging dadiyo wong sing migunani.”

Menurut Rizal, pesan tersebut mengandung prinsip bahwa seorang sarjana tidak seharusnya hanya mengejar reputasi, gelar atau pengakuan sosial.

Sebaliknya, ilmu yang diperoleh melalui pendidikan tinggi harus menjadi bekal untuk mengabdi dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Perubahan teknologi digital dan perkembangan artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian Rizal.

Ia menilai perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia bekerja dan mendorong tuntutan efisiensi yang semakin tinggi.

Penguasaan teknologi, menurutnya, menjadi bagian penting dari kompetensi sarjana masa kini. Namun, kemampuan menggunakan teknologi harus tetap berjalan bersama kepekaan sosial.

Rizal mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat manusia kehilangan kepedulian terhadap persoalan seperti kemiskinan, kesenjangan pendidikan dan pelestarian kebudayaan nasional.

Menurutnya, sarjana masa depan tidak cukup hanya menjadi manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu menjaga nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman.

BACA JUGA  Lauren Graham Bocorkan Buku Rahasia “Gilmore Girls”, Kisah Eksklusif di Balik Layar Akhirnya Terungkap

Menutup orasinya, Rizal menyerukan prinsip “Guyub rukun migunani kanggo Nusantara” sebagai semangat bagi para lulusan IPWIJA ketika kembali ke tengah masyarakat.

Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata ditentukan oleh panjangnya gelar akademik yang melekat di belakang nama.

Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat dan berkontribusi terhadap pembangunan peradaban bangsa.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan titik awal bagi lulusan untuk menguji ilmu, karakter dan tanggung jawab sosialnya di tengah masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER