Genosida Terhadap Etnis Palestina di Jalur Gaza oleh Israel Mengguncang Dunia, Lebih 12 Ribu Perempuan Tewas

Deadline – Genosida terhadap etnis palestina di jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia setelah laporan terbaru menyebut lebih dari 12 ribu perempuan Palestina tewas akibat serangan militer Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

Data Genosida terhadap etnis Palestina tersebut dirilis oleh Kementerian Urusan Perempuan Palestina bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia 2026, menggambarkan dampak perang yang sangat berat bagi perempuan dan keluarga Palestina.

Dalam laporan tersebut disebutkan, dari lebih dari 12.500 perempuan yang terbunuh, sekitar 9.000 di antaranya merupakan ibu. Angka ini menunjukkan besarnya dampak konflik terhadap struktur keluarga Palestina, karena kematian para ibu tidak hanya meninggalkan luka mendalam tetapi juga membuat ribuan anak kehilangan pengasuhan utama.

Kementerian Urusan Perempuan Palestina menyatakan perempuan memperingati Hari Perempuan Sedunia dalam situasi krisis kemanusiaan paling parah dalam sejarah modern Gaza. Mereka menilai serangan militer Israel sejak Oktober 2023 tidak hanya menargetkan wilayah, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial dan ekonomi masyarakat Palestina.

Serangan tersebut berdampak langsung pada kehidupan keluarga. Tercatat 21.193 perempuan menjadi janda setelah kehilangan suami sejak 7 Oktober 2023. Kondisi ini memicu meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi, karena banyak perempuan kini harus menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga mereka.

Selain itu, sebanyak 22.426 ayah Palestina dilaporkan tewas, membuat ribuan keluarga kehilangan tulang punggung ekonomi. Situasi ini memperparah beban perempuan yang harus menghidupi anak-anak mereka di tengah kondisi ekonomi yang hancur akibat perang.

Data juga menunjukkan tingkat kehancuran keluarga yang sangat besar. Sekitar 6.020 keluarga hampir sepenuhnya musnah, hanya menyisakan satu anggota yang selamat, sering kali perempuan atau anak-anak. Bahkan 2.700 keluarga dilaporkan hilang sepenuhnya dari catatan sipil setelah seluruh anggota keluarga tewas.

BACA JUGA  Jurnalis Gaza Tewas Dihantam Drone Israel, Tuduhan Teroris Picu Kecaman Global

Krisis tempat tinggal turut memperburuk kondisi tersebut. Lebih dari 350.000 keluarga kehilangan rumah akibat serangan dan pemboman. Akibatnya, jutaan warga terpaksa hidup di pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Saat ini lebih dari 2 juta warga Gaza menjadi pengungsi internal, termasuk lebih dari 500 ribu perempuan dan hampir 1 juta anak-anak. Mereka hidup dalam kondisi padat, kekurangan makanan, air bersih, serta layanan kesehatan.

Situasi kesehatan perempuan juga berada dalam kondisi kritis. Diperkirakan terdapat sekitar 107.000 perempuan hamil dan menyusui yang menghadapi risiko kesehatan serius akibat runtuhnya sistem layanan kesehatan dan terbatasnya akses medis.

Krisis gizi memperburuk keadaan. Laporan mencatat lebih dari 12.000 kasus keguguran terjadi pada perempuan hamil akibat kekurangan gizi dan tidak tersedianya layanan kesehatan yang memadai.

Selain itu, konflik berkepanjangan membuat 56.348 anak menjadi yatim piatu, setelah kehilangan satu atau kedua orang tua mereka. Beban pengasuhan anak-anak tersebut sebagian besar kini berada di tangan perempuan yang masih bertahan hidup.

Kelaparan juga menjadi ancaman nyata di Gaza. Setidaknya 460 orang dilaporkan meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi, termasuk perempuan dan anak-anak.

Di sisi lain, kondisi pengungsian yang padat memicu penyebaran penyakit. Tercatat lebih dari 2.142.000 kasus penyakit menular terjadi akibat kondisi sanitasi yang buruk dan kepadatan tempat tinggal pengungsi.

Ancaman kematian juga menghantui anak-anak. Sekitar 650.000 anak menghadapi risiko meninggal akibat kekurangan gizi, situasi yang memperparah penderitaan para ibu yang berjuang melindungi keluarga mereka di tengah keterbatasan.

Laporan kementerian menegaskan bahwa perempuan Palestina kini berada di garis depan penderitaan perang. Mereka menjadi korban langsung serangan, sekaligus memikul tanggung jawab besar untuk mempertahankan keluarga yang tersisa.

BACA JUGA  Di Panggung Oscar 2026 Javier Bardem Kecam “Perang Ilegal” yang Saat Ini Terjadi di Timur Tengah

Sejumlah lembaga internasional juga menyoroti situasi tersebut. Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk kekerasan terhadap perempuan, Reem Alsalem, pada 2025 melaporkan adanya indikasi “genosida terhadap perempuan” di Gaza. Laporan itu menyebut terdapat pola penargetan terhadap perempuan dan anak perempuan Palestina yang berpotensi mengganggu kesinambungan reproduksi masyarakat.

Sementara itu organisasi pemantau HAM Euro-Med Monitor mencatat bahwa sejak dimulainya konflik, rata-rata 21,3 perempuan Palestina terbunuh setiap hari akibat pemboman di Jalur Gaza. Angka tersebut setara dengan hampir satu perempuan meninggal setiap jam.

Lembaga tersebut menyebut tingkat kematian perempuan di Gaza sebagai fenomena yang mengejutkan dan belum pernah terjadi sebelumnya, serta mencerminkan pola pembunuhan massal terhadap warga sipil.

Banyak perempuan dilaporkan tewas bersama anak-anak mereka di rumah, kamp pengungsian, tempat penampungan sementara, atau ketika mencoba menyelamatkan diri dari serangan udara.

Organisasi hak asasi manusia Al-Haq juga menyoroti kondisi perempuan Palestina dalam momentum Hari Perempuan Internasional. Mereka menyatakan kehidupan perempuan Palestina dibentuk oleh realitas yang kompleks, mulai dari konflik berkepanjangan hingga kekerasan yang terus berlangsung.

Menurut Al-Haq, situasi di Palestina menunjukkan bahwa perjuangan perempuan di wilayah tersebut tidak dapat dipisahkan dari konflik politik dan kemanusiaan yang sedang terjadi.

Laporan-laporan ini semakin menegaskan bahwa perempuan Palestina menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak dalam konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERPOPULER