voice of jakarta | Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026, kawasan Pasar Asemka di Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, kembali dipadati warga yang berburu perlengkapan sekolah dengan harga lebih terjangkau.
Sejak pagi hari, lorong-lorong pasar yang dikenal sebagai pusat grosir alat tulis dan perlengkapan sekolah itu dipenuhi pembeli dari berbagai wilayah di Jakarta dan sekitarnya. Banyak keluarga memilih datang langsung ke Pasar Asemka untuk menekan biaya kebutuhan pendidikan yang meningkat menjelang masuk sekolah.
Diana (40), warga Cengkareng, mengaku sengaja datang ke Pasar Asemka karena perbedaan harga yang cukup signifikan dibandingkan toko-toko di sekitar tempat tinggalnya.
“Di tempat saya satu pack buku bisa Rp50 ribu, bahkan kadang Rp55 ribu sampai Rp60 ribu. Kalau di sini sekitar Rp35 ribu sampai Rp45 ribuan per pack,” ujarnya saat ditemui di lokasi pada Kamis (9/7).
Menurut Diana, tradisi berbelanja ke Pasar Asemka menjelang tahun ajaran baru telah menjadi rutinitas tahunan keluarganya. Ia menyiapkan anggaran sekitar Rp1 juta untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya selama satu semester.
“Ini baru beli buku sama sampul saja sekitar Rp520 ribu. Nanti lihat lagi kalau pulpen atau pensil di rumah sudah habis. Biar lebih hemat, sekalian beli buat stok satu semester,” katanya.
Fenomena berburu perlengkapan sekolah di pusat grosir tersebut menunjukkan tingginya sensitivitas masyarakat terhadap harga di tengah meningkatnya biaya hidup. Selisih harga puluhan ribu rupiah untuk satu jenis barang dinilai cukup berarti bagi keluarga dengan lebih dari satu anak usia sekolah.
Namun di balik ramainya aktivitas perdagangan, para pedagang justru menghadapi kenyataan berbeda.
Noval, salah seorang pedagang buku dan alat tulis di Pasar Asemka, mengatakan musim masuk sekolah tahun ini tidak mampu menyamai performa penjualan pada periode yang sama tahun lalu.
“Untuk penjualan saat ini memang ramai karena mau tahun ajaran baru. Tapi kalau dibanding sama tahun kemarin ini menurun. Penurunannya lumayan drastis, hampir 20 persen,” kata Noval.
Ia mengungkapkan, pada musim masuk sekolah tahun lalu omzet hariannya dapat mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta. Sementara pada tahun ini, pendapatan tertinggi yang diperoleh hanya berkisar Rp30 juta per hari.
“Tahun lalu sehari bisa sampai Rp30 juta sampai Rp50 juta. Kalau sekarang paling besar Rp30 juta. Jadi selisih omzetnya bisa Rp20 juta sehari,” ujarnya.
Menurut Noval, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan penjualan adalah meningkatnya distribusi bantuan perlengkapan sekolah kepada sebagian siswa sehingga kebutuhan membeli alat tulis menjadi berkurang.
“Kayaknya sudah ada bantuan dari sekolahan sebagian orang. Pulpen, buku, biasanya sudah pada dapat dari sekolah,” katanya.
Ia menilai tren belanja daring bukan menjadi penyebab utama melemahnya penjualan di Pasar Asemka. Menurutnya, harga produk di platform digital justru sering kali lebih tinggi karena adanya tambahan biaya layanan aplikasi.
“Kalau di online justru lebih mahal karena ada potongan biaya aplikasi,” pungkasnya.
Meski demikian, Pasar Asemka diperkirakan tetap menjadi salah satu destinasi utama masyarakat Jakarta dalam memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah, terutama bagi pembeli yang mengutamakan harga grosir dan pembelian dalam jumlah besar menjelang dimulainya tahun ajaran baru.



