Voice of jakarta | Untuk pertama kalinya, suara pekerja perfilman turut bergema di tengah gelombang perjuangan buruh di Jalan Sudirman, Jakarta kamis 24/09/2026. Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (SPPI) hadir bukan sekadar sebagai peserta aksi, tetapi membawa satu tuntutan: agar para pekerja di balik layar industri film mendapat tempat dalam reformasi ketenagakerjaan Indonesia.”
Ketua SPPI Dr. Rizal Djibran bersama sejumlah anggota SPPI bergabung dengan peserta aksi lainnya. Mereka menyampaikan aspirasi agar persoalan pekerja perfilman, termasuk ekosistem industri film, seni dan ekonomi kreatif, mendapat perhatian dalam pembahasan regulasi ketenagakerjaan.
Menurut SPPI, pekerja perfilman menghadapi persoalan yang berkaitan dengan upah, kepastian hubungan kerja, perlindungan hukum serta jaminan kesehatan.
Rizal Djibran mengatakan SPPI berharap usulan mengenai ekosistem perfilman Indonesia yang telah disampaikan kepada DPR dapat dipertimbangkan dalam regulasi ketenagakerjaan yang baru.
Ia mengatakan pekerja perfilman perlu mendapatkan kepastian mengenai hak dan perlindungan dalam menjalankan pekerjaannya.
Sudah saatnya para pekerja perfilman mendapatkan upah yang layak dan perlindungan hukum yang jelas serta jaminan kesehatan,” katanya.
Rizal mengatakan SPPI telah melakukan studi banding terhadap ekosistem perfilman di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan dan India.
Menurut dia, pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan pentingnya ekosistem industri yang mampu memberikan kepastian dan perlindungan bagi pekerja perfilman, sehinga berpengaruh terhadap kehidupan para pekerja film.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membangun sistem ketenagakerjaan sektor perfilman di Indonesia.
Namun, penerapan kebijakan di setiap negara memiliki kondisi hukum, struktur industri dan sistem ketenagakerjaan yang berbeda. Karena itu, SPPI mendorong agar perlindungan pekerja perfilman di Indonesia disesuaikan dengan kebutuhan industri nasional.
Dengan semangat menggebu-gebu, kami akan terus mengawal perundang-undangan yang baru ini dan usulan dari SPPI tentang ekosistem perfilman bisa diterima,” katanya.
Bagi SPPI, masuknya kepentingan pekerja perfilman dalam pembahasan regulasi ketenagakerjaan diharapkan dapat menjadi langkah untuk memperbaiki kondisi kerja di industri perfilman Indonesia.
Aksi buruh berlangsung damai. Anggota SPPI membaur bersama peserta aksi dari berbagai sektor sebagai bagian dari penyampaian aspirasi mengenai pembaruan regulasi ketenagakerjaan.



